PENGARUH POLA ASUH TERHADAP PERKEMBANGAN BAHASA

PENGARUH POLA ASUH TERHADAP PERKEMBANGAN BAHASA

ANAK 0 – 4 TAHUN

Oleh :

Eha Yaniarti

NIM.0908056005

Program pasca sarjana

UNIVERSITAS MUHAMMDIYAH PROF. DR. HAMKA

Jalan Gandaria Raya – JAKARTA

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang Masalah

Penguasaan sebuah bahasa oleh seorang anak dimulai dengan pemerolehan bahasa pertama yang seringkali disebut bahasa ibu (B1). Pemerolehan bahasa merupakan sebuah proses yang sangat panjang sejak anak belum mengenal sebuah bahasa ibu diperoleh,  maka pada usia tertentu 0-4 tahun dimana anak selalu merekam ucapan-ucapan yang ada disekitarnya, tidak mustahil akan berpengaruh kepada perkembangan bahasa anak.

Penulis berupaya menyajikan pola asuh orangtua terhadap anak. Penulis percaya bahwa pola asuh yang kreatif, inovatif, seimbang, dan sesuai dengan tahap perkembangan anak akan menciptakan interaksi dan situasi komunikasi yang memberi kontribusi positif terhadap keterampilan berbahasa anak. Dengan kata lain, kealamian pemerolehan bahasa tidak dibiarkan mengalir begitu saja, tetapi direkayasa sedemikian rupa agar anak  mendapat stimulus posistif sebanyak dan sevariatif mungkin. Dengan demikian, diharapkan anak tidak akan mengalami kesulitan ketika memasuki tahap pembelajaran bahasa untuk kemudian menjadi sosok yang terampil berbahasa.

Bagi anak orangtua merupakan tokoh identifikasi. Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan jika mereka meniru hal-hal yang dilakukan orangtua (Fachrozi dan Diem, 2005:147). Anak serta merta akan meniru apapun yang ia tangkap di keluarga dan lingkungannya  sebagai bahan pengetahuannya yang baru terlepas apa yang didapatkanya itu baik atau tidak baik.  Citraan orangtua menjadi dasar pemahaman baru yang diperolehnya sebagai khasanah pengetahuannya artinya apa saja yang dilakukan orangtuanya dianggap baik menurutnya. Apapun bahasa yang diperoleh anak dari orangtua dan lingkungannya tersimpan dibenaknya sebagai konsep perolehan bahasa anak itu sendiri. Hal ini menunjukan bahwa keberadaan orangtua dalam berbahasa di dalam keluarga (bahasa ibu) sangat dicermati anak untuk ditirukan. Anak bersifat meniru dari semua konsep yang ada di lingkungannya. (Brown dalam Indrawati dan Oktariana 2005:24) mengemukakan  bahwa posisi ekstern behavioristik adalah anak lahir kedunia seperti kertas putih, bersih. Pernyataan itu memberikan penjelasan nyata  bahwa lingkungan dalam hal ini keluarga terutama orangtua dalam pemberian bahasa yang kurang baik khususnya tuturan lisan kepada anak akan menjadi bahan negatif yang akan disambut oleh anak sebagai pemerolehan bahasa pertama (B1) yang menjadi modal awal bagi seorang anak untuk menyongsong kehadiran pemerolehan bahasa kedua.

Pendidikan pada anak diawali di dalam keluarga sejak seorang anak dilahirkan.Seorang anak mulai berkomunikasi dengan orang yang paling dekat dengannya yakni ibu, ayah dan anggota keluarga lainnya yang diekspresikan melalui tangisan,senyum, atau gerak-gerik.Ekspresi tersebut merupakan tanda bahwa ia membutuhkan sesuatu sesuai dengan keinginannya. Orang yang paling peka memahami bahasa anak adalah ibu.Kepekaan ibu itu muncul pada saat ia menyusui atau meninabobokan anaknya. Di saat inilah bunyi-bunyi bahasa dihasilkan dan diwujudkan dalam kalimat satu kata,dua kata, atau lebih dari tiga kata.Komunikasi yang dibangun oleh orang tua sangat mendukung perkembangan kemampuan berbicara anak. Hal ini jelas terlihat dalam perjalanan hidup anak memasuki kegiatan belajar tahap awal pada kelompok Taman Bermain. Pada saat ini anak mulai berinteraksi dengan teman sebayanya. Namun, sering terjadi komunikasi tersebut macet karena anak tersebut diam saja dan tidak mempunyai meberanian untuk bercerita atau berbicara dengan teman-temannya. Keadaan ini disebabkan oleh perasaan asing dengan orang lain yang baru dikenalnya.

Banyak faktor yang mendukung anak untuk berkembang dalam berbicara dengan menggunakan kalimat-kalimat yang sederhana.Salah satu faktor penting yang dapat dimanfaatkan orang tua untuk melatih anak berbicara adalah dengan menggunakan cerita-cerita yang menarik minat anak. Orang tua harus menyediakan waktu untuk ada bersama dan bercerita dengan anaknya.

Dunia modern dengan segala perkembangannya dapat memberi dampak negatif bagi anak jika orang tua tidak mengarahkannya dengan benar.Di sinilah peran cerita yang mengandung nilai moral dapat membantu anak untuk berkembang dengan baik sesuai dengan tokoh dalam cerita yang didengarnya dari orang tua/ orang dewasa/guru. Jadi, cerita yang digunakan untuk mengembangkan kemampuan berbicara anak harus dipilih dengan teliti dan bijaksana oleh orang tua atau orang lain yang membimbing anak itu.

Tugas orang tua sangat penting dalam melatih anak berbicara melaui cerita-cerita yang digemari anak.Cerita-cerita itu dapat berupa dongeng-dongeng yang  mengandung nilai moral yang dapat mengembangkan kepribadian anak-anak. Dengan demikian, anak-anak akan tertarik mendengarkan cerita-cerita tersebut dan dapat mengungkapkannya kembali dengan kata-katanya sendiri. Kemampuan berbicara anak yang telah dilatih dalam berkomunikasi dengan orang tua dapat dikembangkan melalui jalur sekolah.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan masalah yang dikemukakan  di atas dapat diidentifikasikan beberapa masalah. Adapun masalah yang dapat diidentifikasikan sebagai berikut:

  1. Bagaimanakah proses pola asuh yang baik terhadap perkembangan bahasa anak 0-4 tahun?
  2. Pengaruh apakah yang akan muncul  terhadap perkembangan bahasa anak ketika anak sering disuguhi tontonan yang ada di televisi oleh pengasuhnya?
  3. Sarana pendukung apakah yang dapat digunakan di  dalam meningkatkan kompetensi berbahasa pada anak 0-4 tahun?
  4. Model cerita yang bagaimanakah yang dapat mendukung perkembangan   bahasa anak 0-4 tahun ?

Pembatasan Masalah

Untuk membatasi masalah penulis membatasi dengan, 1. Bagaimana pola asuh yang baik terhadap perkembangan bahasa anak 0-4 tahun? 2. Pengaruh apakah yang akan muncul ketika anak sering disuguhi tontonan di televisi oleh pengasuhnya?

C.           Tujuan

Tujuan Penelitian ini dilakukan sebagai upaya peningkatan kompetensi  perkembangan bahasa  anak 0-4 tahun. Dari pengamatan awal menunjukkan bahwa anak yang diasuh dengan selalu diajak berbicara, sering menononton televisi yang acaranya khusus untuk anak usia 0-4 tahun, sering mendengarkan cerita atau dongeng, sering diperkenalkan dengan benda terus nama bendanya disebutkan biasanya sianak akan lebih pandai berbicara dibandingkan dengan anak ketika diasuh oleh ibunya atau baby sister yang diam anak tersebut akan terbawa diam dan jarang protes ketika dia melihat sesuatu yang aneh sekalipun.

D. Kegunaan

Kegunaan penulis mengangkat pengaruh pola asuh terhadap perkembangan bahasa anak 0-4 tahun adalah :

  1. Upaya untuk memberikan solusi  yang baik terhadap para orangtua ataupun baby sister sehingga pada saat bergaul dengan anak asuhnya   0-4 tahun senantiasa menggunakan bahasa  yang bermakna.
  2. Meningkatkan kemampuan berbahasa terhadap orangtua asuh dalam memebimbing anak 0-4 tahun.
  3. Hasil penelitian sebagai umpan balik untuk meningkatkan kreatifitas pola asuh terhadap perkembangan bahasa anak 0-4 tahun.
  1. E. Metodologi Penelitian

Metodologi penelitian ini adalah menggunakan catatan harian, dan model pembelajaran langsung dari model ini terkait dengan live model artinya model ini diangkat dari kehidupan yang nyata.

  1. a. Tujuan Penelitian

Mendeskripsikan, menjelaskan, dan menganalisis tentang pengaruh pola asuh terhadap perkembangan bahasa anak 0-4 tahun.

b.      Tempat dan Waktu Penelitian

1.      Tempat Penelitian,

Penelitian dilaksanakan di lingkungan keluarga yang berada di kota Rangkasbitung Kabupaten Lebak.

  1. Waktu Penelitian,

Penelitian ini berlangsung pada saat anak sedang berinteraksi dengan sesama teman sebayanya  saat  bermain atau pada saat anak tersebut diajak jalan-jalan. Diambil dari pengalaman keluarga pada saat anak berusia 0-4 tahun dan sebagian lagi hasil observasi atau pemantauan pada bulan Desember – februari 2010.

  1. F. Sumber Data

Sumber data diperoleh dari lingkungan sekitar rumah penulis dan anggota keluarga yang usianya berkisar 0-4 tahun. Amel  pada usia 1 tahun diperkenalkan dengan boneka kayu yang tidak memakai baju spontanitas sang ibu ketika melihat payudara boneka menyebutnya pepew, Amel terdiam rupanya diamnya Amel adalah rekaman yang dahsyat sehingga ketika dia minta dienenin dia langsung berkata pepew sambil menujuk payudara ibunya, Amel sekarang duduk dibangku SD kelas satu sampai saat ini dia selalu mengatakan pepew apabila melihat atau mengeluhkan sesuatu yang hubungannya dengan payudara. Alif adalah kakak amel pada saat usia 2.5 tahun dia sudah mampu menghapal 10 surat yang terdapat dalam Alquran, Alif diasuh oleh kakeknya, kakeknya sering mengajak Alif ke mesjid rupanya Alif selama dimesjid bersama kakeknya merekam ayat suci Alquran yang selalu dilantunkan oleh imam pada waktu sholat, sampai saat ini hapalannya sangat tajam walupun hanya dengan mendengarkan saja. Zidni sekarang usianya 3-5 tahun adalah anak dari orangtua yang sama-sama sibuk bekerja sehingga seluruh perhatianya diserahkan kepada pengasuhnya dirumah tetapi untungnya pengasuhnya itu aktif mengajak komunikasi sehingga Zidni nyambung sekali jika diajak komunikasi. Suatu saat Zidni diajak jala-jalan dengan menggunakan kendaraan yang ngebut, tiba-tiba dia menutup matanya, setelah itu ditanya mengapa Zidni menutup mata? Dia menjawab “takut tabrakan” apa tabrakan itu? Jawabnya spontan “Nanti kica maci cemua”.  Dari sisi lain sikap Zidni agak berbeda dia egois, selalu ingin dinomor satukan dan tidak mau mengalah jika bermain dengan teman-temanya. Adit 2 tahun adalah anak kedua dari pasangan yang sama-sama sibuk sehingga sepenuhnya kebutuhan dan semua kegiatan sehari-hari yang dilakukan Adit sepenuhnya diserahkan kepada pengasuhnya, setiap kali Adit minta minum teh manis dia menyebutnya air sedap, ternyata Adit merekam tingkah ayahnya kalau minum teh manis selalu menyatakan mmm sedaap,  Adit tergolong anak yang hiper aktif, artinya dia selalu membuat keonaran apabila berkumpul dengan bocah-bocah yang sebayanya, dia selalu memukul atau berkata kasar, sehingga banyak teman sebayanya yang takut jika Adit datang ingin bergabung bermain. Kebalikan dengan Icha 1-8 tahun  ayahnya pegawai pemda ibunya seorang guru, sayang keseharian Icha lebih banyak dikurung dirumah oleh orangtuanya sehingga Icha kurang bisa beradaptasi dengan lingkungan sosial yang berada disekitar rumahnya, Icha jika diajak berkomunikasi dia jarang sekali merespon ataupun menjawab malah kadang jawabanya tidak diharapkan seringkali dia menangis tiba-tiba akhirnya Icha dibawa lagi kedalam rumah dan duduk didepan televisi seolah-olah itulah dunia Icha yang nyaman. Jovana 5-8 tahun, mempunyai keunikan dalam komunikasi dengan para pengasuhnya. Selain kasar dia juga galak dan hiper aktif, sehingga kekerasanlah yang sehari-hari dinikmati jovana.

BAB II

KERANGKA TEORI

Berbicara dan menyimak merupakan kegiatan komunikasi dua arah yang berlangsung, merupakan komunikasi tatap muka atau face to face communication (Brook 1964:134). Ujaran (speech) biasanya dipelajari melalui menyimak dan meniru (imitasi). Oleh karena itu maka contoh atau model yang disimak atau direkam oleh sang anak sangat penting dalam penguasaan berbicara. Ujaran sang anak mencerminkan pemakian bahasa di rumah dan dalam   masyarakat  tempat  hidupnya; misalnya : ucapan, intonasi, kosa kata, penggunaan kata-kata, pola-pola kalimat. Bunyi atau suara merupakan suatu factor penting dalam meningkatkan cara pemakaian kata-kata sang anak.   Oleh karena itu sang anak akan tertolong jika  mereka menyimak ujaran-ujaran yang baik dari orangtua maupun lingkungan sekitar. Umumnya sang anak mempergunakan, meniru bahasa  yang  didengarnya   ( H. Guntur Tarigan 1987 :4). Pola asuh yang baik terhadap perkembangan bahasa anak 0-4 tahun adalah bagaimana orangtua asuh memberikan contoh, artinya tindak tutur bahasa ibu itu adalah sebuah cerminan dimana anak selalu merekam. Bahasa sang ibu adalah bahasa yang dipakai oleh orang dewasa pada waktu berbicara dengan anak yang sedang dalam proses memperoleh bahasa ibunya ( Soenjono Dardjowidjojo 2008: 242 ). Faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan bahasa anak diantaranya adalah faktor dari dalam diri dan faktor dari luar diri,    H Djaali (2008 ; 99) mengatakan bahwa faktor intelegensi dan bakat besar sekali pengaruhnya terhadap kemampuan berbahasa anak sedangkan faktor dari luar diri adalah datangnya dari keluarga dan lingkungan sekitar, situasi keluarga sangat berpengaruh terhadap perkembangan bahasa anak sebab anak belajar dari situasi dimana anak tumbuh dan dibesarkan dilingkungan tersebut.

Keterampilan berbicara juga menunjang keterampilan menyimak, membaca, dan menulis. Pembicara yang baik merupakan contoh yang dapat ditiru oleh penyimak. Pembicara yang baik selalu berusaha agar penyimaknya mudah menangkap isi pembicaraannya (Djago Tarigan. 1990 : 150).

Pengaruh yang akan muncul terhadap perkembangan bahasa anak 0-4 tahun ketika selalu disuguhi tayangan televisi sangat buruk sekali karena anak lebih banyak mendengarkan daripada berbicara sehingga proses interaksi tidak muncul. Bayi yang selalu terpajan pada suara televisi lebih mungkin menderita penundaan perkembangan bahasa dan tertinggal dalam perkembangan otak karena mereka mendengar lebih sedikit kata dari orangtua mereka dan kurang “berbicara”.  Cristakis mengatakan dalam kantor berita resmi China, Xinhua bahwa televisi yang bersuara jelas mengurangi kata-kata dan perawat mereka didalam rumah dan mengandung potensi yang merugikan bagi perkembangan bahasa bayi. ” Studi ini adalah yang pertama yang memperlihatkan bahwa ketika televisi menyala ada pengurangan kata-kata didalam rumah. Bayi kurang mengeluarkan kata-kata dan perawat mereka juga lebih jarang berbicara dengan mereka, “katanya.

Sarana yang mendukung dalam proses pengembangan bahasa anak 0-4 tahun adalah  orangtua bisa memperkenalkan  kepada anak dengan sebuah gambar lalu menyebutkan artinya, setelah itu orangtua memperkenalkan kembali alat bantu menulis yang tidak hanya terbatas pada pensil, bisa juga spidol, pensil warna, krayon, atau bahkan arang, yang tujuanya tak lain untuk media khusus bagi anak untuk mencurahkan tulisannya sesuai dengan keinginanya. Dalam hal ini, orangtua bisa menggunakan poster pengenalan huruf dan angka yang dipasang di tempet-tempat yang mudah dilihat. Sekali lagi, dilakukan hanya untuk mendorong minat anak untuk mengenal bukan untuk memaksa anak agar bisa dalam satu kali proses. Pada usia pertumbuhan, pemahaman anak tentang bahasa masih berada dalam tahap abstrak. Misalnya, ketika mendengar kata anjing, yang terekam dalam schemata anak adalah anjing menggonggong. Pada tahap ini pandangan anak terhadap kata belum meluas pada penganalogian, masih terbatas pada apa  yang terlihat dan terdengar. Berilah pengertian tentang satu contoh tulisan dengan objek benda berwujud dan bisa dibayangkan oleh imajinasi anak. Misalnya, menganalogikan huruf <o> dengan sebuah donat. Cara demikian akan mempermudah pemahaman anak sekaligus membantu mengasah daya ingat anak 0-4 tahun.

Menurut Dewa Ketut Sukardi dalam Bimbingan Perkembangan Jiwa Anak (1987:27) bahwa dongeng berfungsi untuk mengembangkan kepribadian dan imajinasi anak, dan juga untuk mengakrabkan hubungan antara anak dengan orangtua/dewasa. Pada masa perkembangan kepribadian anak cerita atau dongeng mutlak diperlukan, sebab daya khayal pada masa-masa atau periode ini sangat berperan, karena antara kenyataan (realita) dan khayalan belum dapat dipisahkan dalam hidup anak terutama 0-4 tahun.

BAB III

ANALISIS

Analisis Pengaruh Pola Asuh terhadap Perkembangan Bahasa Anak 0-4 tahun, berangkat dari serangkaian yang terjadi dilapangan. Anak yang selalu diajak berbicara dengan bahasa yang halus, lembut dan sopan akan membentuk kepribadian anak 0-4 tahun menjadi anak yang baik artinya tindak tuturnya tidak akan berberda jauh yaitu selalu mengikuti alur yang baik karena melihat contoh orangtua asuhnya yang baik pula. Tak jarang kita sering melihat anak 0-4 tahun ketika dia bertutur kata selalu menggunakan kata yang kasar juga kotor tetapi orangtua asuhnya tak pernah memprotesnya bahkan sebaliknya justru memberi senyuman atau tepukan terhadap bahasa yang dikeluarkan oleh si anak, anak dibiarkan begitu saja menggunakan bahasa yang mengalir didalam tubuhnya dengan bahasa yang tidak baik ,sehingga anak tersebut menganggap bahwa bahasa yang dipakainya adalah bahasa yang benar.

Kesibukan orang tua adalah penyebab kedua terhadap perkembangan bahasa anak 0-4 tahun, karena kadangkala orangtua memberikan kepercayaan sepenuhnya terhadap baby sister dengan gaya mereka sendiri. Sehingga tampak jelas ketika baby sister sudah lelah ia akan memberi kenyamanan dengan meninabobokan anak didepan televisi, dan si anak dibiarkan asik menikmati tontonan sehingga anak lebih senang mendengarkan daripada berbicara.

Amel pada usia 1 tahun diperkenalkan boneka kayu yang tidak memakai baju oleh ibunya, spontanitas sang ibu menyebutnya pepew pada payudara boneka kayu tersebut, Amel diam tetapi rupanya dia merekam, ketika minta dienenin dia langsung mengucapakan  kata pepew dan langsung menunjuk payudara ibunya, dari sejak itulah Amel seslualu menyebut payudara itu pepew tetapi belum pernah ada yang memprotesnya sehingga Amel beranggapan memang itulah sebutan untuk payudara. Karena Amel menganggap bahwa ucapanya itu benar dia merasa nyaman menyebuy pepew.  Usia Amel kini 6.8 tahun kini duduk dibangku SD kelas 2, tetapi bila mengeluh tentang payudara dia selalu menyebutnya pepew dan Amel sama sekali tidak tahu kalau itu adalah nama yang sesungguhnya payudara. Suatu ketika Amel minta dibersihkan payudaranya karena ada dakinya, “ Mah pepew aku mau dibersihkan jiji banyak dakinya,” lalu ibunya balik bertanya Mel payudaranya kok udah gede, Amel bengong, “ Mah payudara itu apa? Sang ibu terkejut rupanya Amel memang betul-betul tidak tahu apa itu payudara.

Alifiya kakak Amel ketika 2 tahun sering diajak sang kakek sholat ke mushola, Alif kalau di ajak sholat dia selalu duduk manis disamping sang kakek, kalau sholat beres Alif kambali diajak kerumah. Proses itu berlangsung ketika Alif sudah bisa diajak komunikasi sekitar 1.8 tahun, sang kakek melarang pengasuh untuk bicara cadel kepada Alif, usia 2.0 tahun Alif berbicara normal walaupun R nya tidak jelas tapi tidak terdengar cadel ditelinga yang mendengar, Alif 2.5 tahun sudah hapal Alquran 5 surat, yaitu Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas, Al-Maun, Al-Humazah. Alif akhirnya menjadi kebanggaan sang kakek setiap kali diajak berkunjung kerumah family Alif selalu disuruh mengaji oleh orang-orang yang ingin membuktikan kebenaran itu, jika Alif membacakan ayat-ayat itu dia kadang duduk tapi pandangannya kesana kemari bahkan bisa sambil berlari-lari tetapi mulutnya tetap mengaji. Alif sekarang kelas 6 SD.  Dari sejak TK hingga sekarang hapalannya sangat kuat dan dia selalu menjadi juara pertama dikelasnya, anaknya diam tetapi cepat menangis bila ada yang kurang berkenan.

Zidny adalah anak pertama dari orang tua yang sama-sama sibuk ibunya seorang perawat, ayahnya pegawai Pemda Kabupaten, keseharian Zidny hanya dengan pembantu. Zidny  suka sekali nonton teletabis tapi pembantunya kebetulan aktif berbicara dengan Zidny. 2 tahun Zidny diasuh dengan pembantu yang sama seterusnya sampai usia 3-0  Zidny diasuh oleh neneknya yang super cewet alhasil Zidny sekarang usia 3-5 tahun mempunyai watak yang sama dengan neneknya yang cerewet itu, Zidny jika diajak komunikasi selalu nyambung tetapi ego nya sangat tinggi, dia keras kepala dan selalu ingin menang sendiri, waktu usia 2-0 tahun Zidny diajak jalan-jalan dengan naik mobil agak ngebut sepanjang jalan dia menutup mata, lalu diatanya mengapa menutup mata, dia menjawab takut tabrakan, apa tabrakan itu? Jawaban Zidny “nanti kica maci cemua” Zidny sekarang masuk play group, dikelas zidny menjadi anak yang dominan, dan termasuk anak yang sangat cerewet dia selalu memprotes teman-temanya jika temannya membuat kesalahan atau bahkan yang lainya, seperti jika temanya memakai pakaian yang tidak rapih. “ kok pakaian kamu ga dimasukan”, kok rambutnya panjang ga diikat”, padahal Zidny sendiri berambut panjang tapi giliran mau diikat dia selalu bilang “ aku ga mau diikat takut ga cantik”.

Adit sekarang usianya 2-9 tahun, sehari-hari waktunya habis bersama pengasuhnya. Suatu hari ketika ayahnya minum teh manis, ayahnya mengatakan mmm mantap,  rupanya  Adit  merekam  sehingga ketika dia minta teh manis dia  mengatakan   “mau ceh mantap”, pengasuh Adit mebiasakan Adit kalau minta susu dengan sebutan yuyu akhirnya sampai saat ini kebisaan itu selalu dipakai Adit. Pola asuh yang diberikan pengasuhnya kepada Adit terlalu berlebihan, contohnya suatu hari ketika Adit berkata kasar seperti menyebut temanya dengan kata-kata “Jing” tetapi oleh pengasuhnya tidak pernah diprotes kalau yang dimaksud kata Adit adalah kata yang kasar bahkan rendah karena itu menyebut binatang anjing, malah pengasuhnya ketika Adit berkata begitu, ditertawakan  dan dicium, yang lebih dahsyat lagi malah dipuji katanya “duh pinternya anak ua,” betapa Adit sekarang asiik dengan kata-kata “jing”, penulis pernah bertanya kepada Adit, “Dit apa Jing itu” Adit menjawab sambil memeluk pengasuhnya “guguk”. Lalu penulis melarang “Ga boleh bilang begitu ya sayang”  Adit malah melempar penulis dengan sandal.  Anehnya sang pengasuh lagi-lagi tersenyum dan mentertawakan Adit.  Adit tergolong anak yang galak  dan usil, bila bersama teman-teman sebayanya dia selalu membuat ulah, misalnya mendorong, melempar dengan batu, atau tiba-tiba saja dia memukul temanya dengan benda keras sampai berdarah. Dan kata-kata Adit itu selalu kasar.

Icha 1-8 tahun adalah anak kedua dari bapak Agus Nurlianto yang bekerja di Pemda Kabupaten, Ibunya seorang guru. keseharian Icha banyak dikurung di rumah oleh ibunya, Ibunya memberi komitmen  kepada pembantunya untuk tetap tinggal didalam rumah jika beliau sedang pergi ke sekolah, akhirnya sang pengasuh lebih banyak menghabiskan waktunya dengan Icha didepan televisi. Sosialisasi Icha sangat kurang sekali, terbukti apabila Icha dibawa keluar rumah dia lebih banyak diam dan tak pernah mengeluarkan  kata-kata. Suatu hari penulis mengajak komunikasi dengan Icha “ Sini Icha main dengan teteh” Icha malah bersembunyi diketiak sang ibu lalu menangis. Akhirnya sang ibu lagi-lagi membawa Icha kembali kerumah. Sampai saat ini penulis jarang sekali mendengar Icha mengeluarkan kata-kata. Penulis menyimpulkan Icha lebih asiik dirumah dan merasa tersiksa kalau diajak bergabung dengan lingkungan sekitar.

Jovana 5-8 tahun adalah anak keturunan  Tionghoa, ibunya orang Sunda bapaknya Tionghoa, orangtua Jovana adalah pengusaha emas di Rangkasbitung yang keseharianya sibuk ditoko. Waktu usia 2-0 tahun Jovana sering menghabiskan waktu ditoko bersama maminya, Jovana sering menyaksikan papinya jika memarahi pegawainya. Karena sering merekam kejadian itu, tumbuhlah Jovana menjadi anak yang berprilaku kasar dan berbahasa kasar pula. Anehnya sang papi tidak menerima tindak tutur anaknya seperti itu,  sehingga suatu hari Jovana memebuat kesalahan,  Jovana dipukul dengan sabuk dengan mengeluarkan kata-kata yang kasar seperti, dasar anak setan lo, dasar bego lo, saat Jovana minta ampun pun sang papi malah semakin garang dan berkata “ ngelawan lo” nantang gua lo” dst.  Kini Jovana menggunakan kata-kata itu jika dia kesal terhadap orang-orang yang  berada didekatnya bahkan suatu hari penulis menyaksikan Jovana sedang mengobrak abrik hasil setrikaan pembantunya, lalu penulis bertanya “eh Jov, kok di acak-acak, kenapa?” Jovana menjawab “ biarin, biar si bodo banyak kerjaan,” bukan kepalang luar biasa kagetnya sang penulis, anak seusia Jovana bisa mengeluarkan kata-kata seperti itu.

BAB IV

KESIMPULAN

Pola asuh seperti yang dipaparkan diatas akan berhasil bilamana orangtua mampu menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan bahasa anak 0-4 tahun. Para ahli sepakat bahwa pemerolehan bahasa anak sangat dipengaruhi oleh penggunaan bahasa sekitar. Dengan kata lain, perjalanan pemerolehan bahasa seorang anak akan sangat bergantung pada lingkungan bahasa anak tersebut (Yudibrata, 1998:65). Rumah adalah sekolah pertama bagi anak, orangtua adalah guru pertama yang bisa mengantar anak menuju gerbang pendidikan formal.  Orangtua memiliki andil yang besar dalam perkembangan bahasa anak. Penyediaan sarana dan prasarana pendidikan dilingkungan rumah merupakan hal penting bagi proses perkembangan bahasa anak. Proses ini semestinya tidak terhambat oleh masalah finansial. Yang penting, bagaimana orangtua membuat  kondisi rumah sedemikian rupa agar mampu menghasilkan stimulus positif sebanyak dan sevariatif mungkin. Sesuai dengan nalurinya, anak senantiasa ingin selalu mengetahui segala hal dan mencoba sesuatu yang baru. Pemberian stimulus akan memengaruhi perubahan perilaku anak. Stimulus yang diberikan oleh orangtua akan terbingkai dalam pola pikir, pola tindak, dan pola ucap anak. Jika orangtua menginginkan santun dalam berbahasa, maka berikan stimulus yang positif. Setiap aktifitas yang terjadi dilingkungan rumah merupakan rangkain dari proses pemerolehan yang sifatnya berkala dan berkesinambungan. Dalam hal ini orangtua berperan sebagai motor penggerak yang memegang kendali pertama dan utama dalam perkembangan bahasa anak melalui pola asuh yang mendidik.

DAFTAR PUSTAKA

Dardjowidjojo, Soenjono. 2008. Psikolinguistik Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Obor Indonesia.

Djaali. H. 2008. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara

Ketut Sukardi, Dewa. 1984. Psikologi Populer Bimbingan Perkembangan Jiwa Anak. Jakarta : Ghalia Indonesia.

Guntur Tarugan, Henry. 1987. Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung : Angkasa

Tarigan, Djago. 1990. Pendidikan Bahasa Indonesia Modul 4 Berbicara. Jakarta : Depdikbud

Tarmizi WordPress.com/…/dampak-bahasa-ibu-b1-dalam pemerolehan bahasa

Infotelevisi.blogspot.com/…/ pengaruh-televisi-pada-perilaku-anak

Mradhi.com/…/pengaruh-pola-asuh-terhadap-perkembangan-bahasa-anak.

Tentang yaniarti01

"FASTABIQUL KHOEROT" Berlomba-lombalah dalam kebaikan....
Pos ini dipublikasikan di Artikel, Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s