RENUNGAN

RENUNGAN

Bukankah seseorang yang tidak punya apa-apa tidak bisa memberi apa-apa?…

Begitu juga dengan seorang pendidik yang tidak memberikan teladan kepada anak didiknya, ia bak menulis di atas air, ia tidak bisa melihat hasil yang telah dikerjakannya.

Firman Allah:

“Mengapa kamu suruh orang lain mengerjakan kebaikan, sedang kamu melupakan diri mu sendiri, padahal kamu membaca Al-Qitab (Taurat) Maka tidaklah kamu berfikir.” Al-Baqarah(2): 44.

Janganlah Anda jadikan zuhud Anda sebagai pekerjaan Anda untuk mencari dunia, tetapi jadikanlah pekerjaan Anda sebagai ibadah Anda untuk meraih pahala akhirat. Apabila ahli dunia berterima kasih kepada Anda dan memuji-muji Anda, maka anggaplah urusan mereka itu sebagai dongengan.

Anda lihat bahwa pada umumnya manusia bergantung pada sarana, sedang orang yang arif bergantung pada yang menguasai sarana. Pembicaraanya tiada lain mengenai kebesaran Allah, kekuasan-Nya, kemulian-Nya, dan rahmat-Nya. Semuanya ia habiskan untuk itu hingga ia membawanya masuk ke dalam  kuburnya.

Barang siapa yang menganggap hidup ini mengikatnya, maka untuk bebas darinya adalah harus mati.

Dunia tiada harganya di sisi Tuhannya, padahal dunia adalah milik-Nya. Oleh karena itu, tidaklah layak bila di dunia dianggap berharga oleh Anda, padahal ia bukan milik Anda.

Ibadah orang arif (mengenal Allah) adalah dengan tiga perkara, yaitu:1.Mempergauli manusia dengan baik;2.Melestarikan dzikir kepada Yang Mahaagung; dan 3. Mengobati tubuh yang sehat, karena di antara kedua lambung itu terdapat kalbu yang sakit.

    Orang yang pandai adalah orang yang memiliki tiga pekerti, Yaitu:

    1. Bersegera dalam beramal;
    2. Menangguhkan angan-angannya; dan
    3. Bersiap-siap untuk menghadapi ajalnya.

    Orang yang merugi pada hari Kiamat adalah yang mempunyai tiga pekerti; yaitu:

    1. Menghabiskan hari-harinya dengan melakukan hal-hal yang sia-sia;
    2. Mengaktifkan seluruh anggota tubuhnya untuk hal-hal yang mengecewakan; dan
    3. Mati sebelum sadar dari kemabukannya.

    Rassulullah bersabda:

    “Gunakanlah lima perkara sebelum datang lima perkara lainnya: Gunakan masa mudamu sebelum masa tuamu; masa hidupmu sebelum kematianmu; waktu luangmu sebelum waktu sibukmu; waktu sehatmu sebelum waktu sakitmu; waktu kayamu sebelum waktu miskinmu.”

    “tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hintungan yang teliti. Tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari Kiamat dengan sendiri-sendiri. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang (kepada sesama mukmin). Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran itu dengan bahasa kalian agar kalian dapat member kabar gembira dengan Al-Quran itu kepada orang-orang yang bertaqwa dan agar kalian member peringatan dengannya kepada kaum yang membangkang.  Berapa banyak telah Kami binasakan umat-umat sebelum mereka. Adakah kalian melihat seorangpun dari mereka atau kalian dengar suara mereka yang samar-samar?” (QS. Maryam (19): 93-98)

    Dipublikasi di RENUNGAN | Meninggalkan komentar

    Prospek Penggunaan TIK Dalam Pembelajaran Bahasa

    PROSPEK PENGGUNAAN TIK DALAM PEMBELAJARAN BAHASA DITINJAU DARI FAKTOR PENDUKUNG DAN PENGHAMBAT

    (Oleh : Eha yaniarti, Een Rochaeni, Yuyun Jumiati, & Nurlelawati)

    PENGANTAR

    Dalam dunia pendidikan, khususnya pendidikan bahasa, penggunaan bahasa dikemas dalam empat aspek keterampilan berbahasa (menyimak, membaca, berbicara, dan menulis). Keempat aspek keterampilan berbahasa tersebut menjadi landasan pembelajaran sejak SD hingga perguruan tinggi. Setiap pebelajar diberdayakan kompetensinya untuk menguasai keempat aspek tersebut (meskipun sulit mencari orang yang menguasai keempatnya).

    Dikaitkan dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, aspek keterampilan berbahasa menjadi komponen menarik untuk dikaji. Suatu teknologi ditemukan dan dikembangkan untuk kemaslahatan umat manusia. Dengan teknologi segala hajat hidup dapat dilakukan dengan cara yang efektif dan efisien. Bahkan, para pemakai bahasa pun dapat memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kompetensi berbahasa, baik secara reseptif maupun produktif.

    Dalam makalah ini pemakalah mencoba memberikan peluang-peluang untuk menggunakan teknologi sebagai media pembelajaran keterampilan berbahasa. Penggunaan teknologi sebagai media pembelajaran, ternyata, mampu meningkatkan hasil belajar bahasa. Misalnya, penggunaan audiolingual dan audio visual telah berjaya meningkatkan hasil belajar bahasa (lihat Richards and Rogers, 1993). Pembelajaran yang seperti itu telah menjadi bagian dalam upaya meningkatkan hasil belajar.

    Problematika yang dihadapi oleh guru bahasa Indonesia dalam era globalisasi  terkait dengan perkembangan TIK sangat krusial. Perkembangan Teknologi informasi dan komunikasi di era globlaisasi saat ini berimplikasi pada pergeseran paradigma dalam sistem pendidikan. Paradigma baru pembelajaran pada era globalisasi memberikan tantangan yang besar bagi guru. Pada era ini dalam melaksanakan profesinya, guru dituntut lebih meningkatkan profesionalitasnya. Menurut para ahli, profesionalisme menekankan kepada penguasaan ilmu pengetahuan atau kemampuan manajemen beserta strategi penerapannya. Guru yang profesional pada dasarnya ditentukan oleh attitudenya yang berarti pada tataran kematangan yang mempersyaratkan keinginan dan kemampuan, baik secara intelektual maupun kondisi fisik yang prima.

    Maister (1997) mengemukakan bahwa profesionalisme bukan sekadar pengetahuan teknologi dan manajemen tetapi lebih merupakan sikap, pengembangan profesionalisme lebih dari seorang teknisi bukan hanya memiliki keterampilan yang tinggi tetapi memiliki suatu tingkah laku yang dipersyaratkan. Menurut Arifin (2000), guru yang profesional dipersyaratkan mempunyai; 1) dasar ilmu yang kuat sebagai pengejawantahan terhadap masyarakat teknologi dan masyarakat ilmu pengeta­huan di era globalisasi, 2) penguasaan kiat-kiat profesi berdasarkan riset dan praksis pendi-dikan yaitu ilmu pendidikan sebagai ilmu praksis bukan hanya merupakan konsep-konsep belaka. Pendidikan merupakan proses yang terjadi di lapangan dan bersifat ilmiah, serta riset pendidikan hendaknya diarahkan pada praksis pendidikan masyarakat Indonesia, 3) pengembangan kemampuan profesional berkelanjutan, profesi guru merupakan profesi yang berkembang terus menerus dan berkesinambungan antara LPTK dengan praktek pendidikan.

    Dengan adanya persyaratan profesionalisme guru ini, perlu adanya paradigma baru untuk melahirkan profil guru yang profesional di era globalisasi, yaitu; 1) memiliki kepribadian yang matang dan berkembang, 2) penguasaan ilmu yang kuat, 3) keterampilan untuk mem-bangkitkan peserta didik kepada sains dan teknologi, dan 4) pengembangan profesi secara berkesinambungan. Keempat aspek tersebut merupakan satu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisahkan dan ditambah dengan usaha lain yang ikut mempengaruhi perkembangan profesi guru yang profesional.

    Apabila syarat-syarat profesionalisme guru tersebut terpenuhi, akan melahirkan profil guru yang kreatif dan dinamis yang dibutuhkan pada era globalisasi. Hal ini sejalan dengan pendapat Semiawan (1999), bahwa pemenuhan persyaratan guru profesional akan mengubah peran guru yang semula sebagai orator yang verbalistis menjadi berkekuatan dinamis dalam menciptakan suatu suasana dan lingkungan belajar yang inovatif. Dalam rangka peningkatan mutu pendidikan, guru memiliki multi fungsi yaitu sebagai fasilitator, motivator, informator, komunikator, transformator, change agent, inovator, konselor, evaluator, dan administrator.

    1. I. Kaitan TIK dengan Pembelajaran Bahasa Indonesia
    1. Pengaruh Globalisasi Terhadap Pembelajaran Bahasa Indonesia

    Era globalisasi merupakan tantangan bagi bangsa Indonesia untuk dapat mempertahankan diri di tengah-tengah pergaulan antarbangsa yang sangat rumit. Untuk itu, bangsa Indonesia harus mempersiapkan diri dengan baik dan penuh perhitungan. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah masalah jati diri bangsa yang diperlihatkan melalui jati diri bahasa. Jati diri bahasa Indonesia memperlihatkan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang sederhana, Tatabahasanya mempunyai sistem sederhana, mudah dipelajari, dan tidak rumit. Kesederhanaan dan ketidakrumitan inilah salah satu hal yang mempermudah bangsa asing ketika mempelajari bahasa Indonesia. Setiap bangsa asing yang mempelajari bahasa Indonesia dapat menguasai dalam waktu yang cukup singkat. Namun, kesederhaan dan ketidakrumitan tersebut tidak mengurangi kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia dalam pergaulan dan dunia kehidupan bangsa Indonesia di tengah-tengah pergaulan antarbangsa. Bahasa Indonesia telah membuktikan diri dapat dipergunakan untuk menyampaikan pikiran-pikiran yang rumit dalam ilmu pengetahuan dengan jernih, jelas, teratur, dan tepat. Bahasa Indonesia menjadi ciri budaya bangsa Indonesia yang dapat diandalkan di tengah-tengah pergaulan antarbangsa pada era globalisasi ini. Bahkan, bahasa Indonesia pun saat ini menjadi bahan pembelajaran di negara-negara asing seperti Australia, Belanda, Jepang, Amerika Serikat, Inggris, Cina, dan Korea Selatan.

    Tanggung jawab terhadap perkembangan bahasa Indonesia bukan hanya dipundak guru bahasa Indonesia khususnya dalam pembelajaran, namun terletak di tangan pemakai bahasa Indonesia sendiri. Baik buruknya, maju mundurnya, dan tertatur kacaunya bahasa Indonesia merupakan tanggung jawab setiap orang yang mengaku sebagai warga negara Indonesia yang baik. Setiap warga negara Indonesia harus bersama-sama berperan serta dalam membina dan mengembangkan bahasa Indonesia itu ke arah yang positif. Maju bahasa, majulah bangsa. Kacau bahasa, kacaulah pulalah bangsa. Keadaan ini harus disadari benar oleh setiap warga negara Indonesia sehingga rasa tanggung jawab terhadap pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia akan tumbuh dengan subur di sanubari setiap pemakai bahasa Indonesia.

    Era globalisasi merupakan tantangan bagi bangsa Indonesia untuk dapat mempertahankan diri di tengah-tengah pergaulan antarbangsa yang sangat rumit. Untuk itu, bangsa Indonesia harus mempersiapkan diri dengan baik dan penuh perhitungan. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah masalah jati diri bangsa yang diperlihatkan melalui jati diri bahasa. Jati diri bahasa Indonesia memperlihatkan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang sederhana, Tatabahasanya mempunyai sistem sederhana, mudah dipelajari, dan tidak rumit. Kesederhanaan dan ketidakrumitan inilah salah satu hal yang mempermudah bangsa asing ketika mempelajari bahasa Indonesia. Setiap bangsa asing yang mempelajari bahasa Indonesia dapat menguasai dalam waktu yang cukup singkat. Namun, kesederhaan dan ketidakrumitan tersebut tidak mengurangi kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia dalam pergaulan dan dunia kehidupan bangsa Indonesia di tengah-tengah pergaulan antarbangsa. Bahasa Indonesia telah membuktikan diri dapat dipergunakan untuk menyampaikan pikiran-pikiran yang rumit dalam ilmu pengetahuan dengan jernih, jelas, teratur, dan tepat. Bahasa Indonesia menjadi ciri budaya bangsa Indonesia yang dapat diandalkan di tengah-tengah pergaulan antarbangsa pada era globalisasi ini. Bahkan, bahasa Indonesia pun saat ini menjadi bahan pembelajaran di negara-negara asing seperti Australia, Belanda, Jepanh, Amerika Serikat, Inggris, Cina, dan Korea Selatan.

    Tanggung jawab terhadap perkembangan bahasa Indonesia bukan hanya dipundak guru bahasa Indonesia khususnya dalam pembelajaran, namun terletak di tangan pemakai bahasa Indonesia sendiri. Baik buruknya, maju mundurnya, dan tertatur kacaunya bahasa Indonesia merupakan tanggung jawab setiap orang yang mengaku sebagai warga negara Indonesia yang baik. Setiap warga negara Indonesia harus bersama-sama berperan serta dalam membina dan mengembangkan bahasa Indonesia itu ke arah yang positif. Maju bahasa, majulah bangsa. Kacau bahasa, kacaulah pulalah bangsa. Keadaan ini harus disadari benar oleh setiap warga negara Indonesia sehingga rasa tanggung jawab terhadap pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia akan tumbuh dengan subur di sanubari setiap pemakai bahasa Indonesia.

    1. Perkembangan TIK Bagi Guru Bahasa Indonesia

    Peranan guru bahasa Indonesia dalam pendidikan terletak pada tugas dan tanggung jawabnya dalam melaksanakan profesinya sebagai alat pendidikan. Tugas dan tanggung jawab tersebut ber­kaitan erat dengan kemampuan dasar yang disyaratkan untuk memangku jabatan profesi. Ke­mampuan dasar itu adalah kompetensi guru, yang merupakan profesionalisme guru dalam melaksanakan profesinya. Kemerosotan pendidikan bukan diakibatkan oleh kurikulum tetapi oleh kurangnya kemampuan profesionalisme guru dan keengganan belajar siswa. Profesionalisme menekan-kan kepada penguasaan ilmu pengetahuan atau kemampuan manajemen beserta strategi penerapannya. Profesionalisme bukan sekadar pengetahuan teknologi dan manajemen tetapi lebih merupakan sikap, pengembangan profesionalisme lebih dari seorang teknisi bukan hanya memiliki keterampilan yang tinggi tetapi memiliki suatu tingkah laku yang dipersyaratkan.

    Ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) merupakan salah satu hasil usaha manusia untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, yang telah dimulai pada permulaan kehidupan manusia. Pendidikan serta ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) mempunyai kaitan yang erat seperti diketahui bahwa iptek menjadi bagian utama dalam isi pendidikan. Dengan kata lain pendidikan berperan sangat penting dalam pewarisan dan perkembangan iptek.

    Seorang guru yang menguasai teknologi informasi salah satunya adalah guru yang dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru mulai dari perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, penilaian hasil belajar, analisis hasil belajar maupun kegiatan remedial dan enrichment telah memanfaatkan komputer secara optimal. Dokumen administrasi guru semuanya tersimpan secara digital dan setiap saat dapat diakses dan diperbaharui sesuai dengan kebutuhan. Dengan memanfaatkan teknologi informasi, persoalan waktu dan kesulitan teknis dapat dipangkas sehingga penyusunan dokumentasi administrasi pembelajaran dan dokumentasi soal-soal menjadi lebih mudah, efektif dan efisien.

    Dengan perkembangan iptek dan kebutuhan masyarakat yang makin kompleks maka pendidikan dalam segala aspeknya mau tidak mau harus mengakomodasi perkembangan itu, baik perkembangan iptek maupun perkembangan masyarakat. Lembaga pendidikan utamanya pendidikan jalur sekolah harus mampu mengakomodasi dan mengantisipasi perkembangan iptek. Bahan ajaran seyogianya hasil perkembangan iptek mutakhir, baik yang berkaitan dengan hasil perolehan informasi, maupun cara memperoleh informasi itu dan manfaatnya bagi masyarakat. Relevansi bahan ajaran dan cara penyajiannya dengan hakikat ilmu, sumber bahan ajaran itu merupakan satu tuntutan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi.

    Di banyak negara maju, teknologi TIK justru telah menjadi infrastruktur utama dalam hal proses pembelajaran. Lain halnya di Indonesia yang justru mengalami degradasi percepatan dalam hal mengikuti perkembangan teknologi dalam proses belajar mengajar. Khususnya pada sebagian besar sekolah-sekolah di Indonesia masih menggunakan metode pembelajaran pada era 1990an. Banyak faktor yang menyebabkan sistem pembelajaran di Indonesia belum bisa mengikuti perkembangan teknologi. Beberapa diantaranya adalah kurangnya SDM guru – dalam hal ini guru bahasa Indonesia – yang ahli dibidangnya dan menguasai penggunaan teknologi pendukung, serta mahalnya peralatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) seperti komputer dekstop, notebook dan koneksi Internet yang masih dirasakan oleh sebagian besar orang yang terlibat pada proses pembelajaran. Kebutuhan penggunaan TIK tentunya disesuaikan oleh jenis sekolah tersebut. Sekolah berjenis teknik khususnya teknik informatika akan sangat tinggi dalam penggunaan ICT dibanding sekolah umum.

    Teknologi komputer dapat berfungsi sebagai teknologi informasi maupun sebagai teknologi komunikasi. Seorang guru dalam konteks ini sejatinya menguasai teknologi informasi dan komunikasi. Istilah Information and Communication Technology (ICT) dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Istilah TIK dalam makalah ini bukan TIK sebagai Mata Pelajaran, melainkan sebagai segala hal yang berkaitan dengan pemanfaatan teknologi komputer dalam kegiatan pembelajaran. Dalam konteks ini, TIK sebagai information and communication technology based learning dan multimedia learning.

    Secara akademis, pengertian teknologi informasi dapat dibedakan dengan teknologi komunikasi, meskipun pada prakteknya teknologi informasi dan komunikasi ibarat dua sisi mata uang. Teknologi informasi memiliki pengertian luas yang meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, pengunaan komputer sebagai alat bantu, manipulasi dan pengolahan informasi. Sementara teknologi komunikasi meliputi segala hal yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat satu ke perangkat yang lainnya. Dalam konteks pembelajaran, TIK meliputi segala hal yang berkaitan dengan pemanfaatan komputer untuk mengolah informasi dan sebagai alat bantu pembelajaran serta sebagai sumber informasi bagi guru dan siswa.

    Terkait dengan pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah, pada umumnya  guru bahasa Indonesia masih berbicara tentang kaidah bahasa dan penggunaan bahasa secara komunikatif belum sampai pada penggunaan bahasa Indonesia di bidang TIK. Maka dari itu, kebutuhan dukungan TIK juga sebagian besar tertuju hanya pada penyediaan informasi global. Bahkan karena itu pula sebagian besar guru bahasa Indonesia beranggapan bahwa mereka tetap bisa berjalan dengan baik tanpa adanya dukungan TIK  yang tinggi dan canggih. Untuk mendukung sistem pembelajaran, mereka merasa masih dapat menyediakannya lewat buku-buku perpustakaan dan koran yang berisi materi-materi tentang bahasa Indonesia. Dalam aktifitas pemberian materi, mereka masih merasa puas dengan menggunakan overhead, papan tulis, dan fotokopi materi.

    3.  Faktor Pendukung yang Diperoleh Guru Bahasa Indonesia dalam Pembelajaran dengan Memanfaatkan TIK

    1)  Dengan  TIK materi pembelajaran yang diberikan guru melalui internet dapat memberikan sambungan (koneksivitas) dan jangkauan yang sangat luas (global).

    2)  Akses informasi tidak dibatasi oleh waktu karena dunia maya yang dihadirkan secara global tidak pernah tidur artinya, kita dapat melakukan pencarian inforasi melalui internet kapan saja selama 24 jam sehari.

    3) Akses informasi melalui internet lebih cepat  dibanding dengan mencari informasi pada halaman-halaman buku-buku di perpustakaan. Kita tinggal mengklik icon tertentu, maka apa yang kita inginkan akan muncul pada layar computer kita.

    4) Akses internet juga dapat menyediakan kegiatan pembelajaran interaktif yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga tertentu yang dapat meningkatkan kemampuan bernalar serta pengetahuan kita.

    5) Kita dapat berdiskusi tentang berbagai hal dengan siswa , teman, jika kita memesuki mailing list atau melakukan chatting.

    6)  Dibandingkan dengan membeli buku atau majalah asli, penelusuran informasi melalui internet jauh lebih murah. Apalagi pada saat ini banyak situs  yang menyediakan jasa informasi secara Cuma-Cuma (gratis) kita tinggal mendoanload atau mencetak file naskah yang kita butuhkan.

    4. Faktor Penghambat yang Dihadapi Guru Bahasa Indonesia dalam Pembelajaran dengan MemanfaatkanTIK

    Penggunaan teknologi untuk memperbaiki pendidikan masih dapat dipertimbangkan. Beberapa keuntungan dari penggunaan teknologi informasi untuk sistim pembelajaran di luar kelas adalah:

    a) penambahan akses untuk belajar,

    b) penambahan sumber informasi yang lebih baik,

    c) penambahan ketersediaan media alternatif untuk mengakomodasi strategi pembelajaran yang beraneka ragam,

    d) motivasi belajar menjadi semakin tinggi, dan, model pembelajaran individu maupun kelompok menjadi lebih potensial (Niemi and Gooler, 1987). Pendapat lain menyebutkan keuntungan potensial penggunaan TIK dalam proses pembelajaran (Massy and Zemsky, 1995) adalah:

    1) penyediaan akses ketersediaan informasi tanpa batas lewat Internet dan onlinedatabase,

    2) membuka batasan waktu dan ruang untuk aktifitas pembelajaran,

    3) menjadikan guru bahasa Indonesia sebagai orang terbaik bagi siswa lewat sistem pengajaran berbasis multimedia,

    4) menyediakan sistem pembelajaran mandiri, menyikapi kepekaan dalam perbedaan cara pembelajaran, dan menyediakan monitoring kemajuan dalam proses pembelajaran secara berkelanjutan,

    5) membuat penyelenggara edukasi menjadi lebih outcomeoriented, dengan menambah kemampuan institusi dalam bereksperimen dan berinovasi,

    6) menambah produktifitas pengetahuan, dan

    7) memberikan siswa untuk dapat mengontrol proses dan keuntungan dalam belajar dengan secara aktif dan mandiri serta mempunyai tanggung jawab secara personal. Penggunaan teknologi yang membuat edukasi menjadi lebih baik tidak akan terwujud tanpa adanya perubahan paradigma dalam edukasi itu sendiri.

    Terkait dengan paradigma pendidikan ternyata di Indonesia masih kebingungan untuk memilih paradigma mana yang paling pas dalam menyelesaikan masalah pembelajaran berbasis TIK. Program dulu baru anggarannya, atau anggarannya dulu baru programnya. Kebingungan ini mungkin karena trauma lama, yakni adanya program yang bagus ternyata tidak didukung oleh adanya anggaran yang tersedia. Atau trauma lama tentang ketersediaan anggaran untuk suatu program ternyata dilatarbelakangi oleh kepentingan dari pihak-pihak nonkependidikan yang memiliki motif-motif untuk mencari keuntungan. Contoh tentang hal ini terlalu banyak untuk disebutkan satu persatu. Program pengadaan alat peraga, pengadaan buku pelajaran satu siswa satu buku, bahkan soal sepatu bagi siswa saja kemudian dengan mudahnya disediakan dananya. Tetapi, anggaran yang tersedia itu tenyata tidak dilengkapi dengan konsep dan perencanaan yang matang. Atau konsep yang ada itu dengan mudahnya tidak dilaksanakan secara konsekuen. Ketentuan judul buku pelajaran harus digunakan di sekolah minimal selama lima tahun pelajaran, sebagai contoh, dengan mudahnya dipungkiri oleh sekolah, karena berbagai alasan seperti adanya perubahan kurikulum. Di Malaysia, penggunaan buku pelajaran menggunakan konsep sepuluh tahunan. Buku pelajaran yang digunakan di sekolah Malaysia digunakan selama sepuluh tahun. Buku pelajaran baru dapat diganti atau direvisi setelah melalui mekanisme sepuluh tahunan itu. Jika memang IT dan Internet memiliki banyak manfaat, tentunya ingin kita gunakan secepatnya. Namun ada beberapa kendala di Indonesia yang menyebabkan IT dan Internet belum dapat digunakan seoptimal mungkin. Kesiapan pemerintah Indonesia masih patut dipertanyakan dalam hal ini.

    Salah satu penyebab utama adalah kurangnya ketersediaan sumber daya manusia, proses transformasi teknologi, infrastruktur telekomunikasi dan perangkat hukumnya yang mengaturnya. apakah infrastruktur hukum yang melandasi operasional pendidikan di Indonesia cukup memadai untuk menampung perkembangan baru berupa penerapan IT untuk pendidikan ini. Sebab perlu diketahui bahwa Cyber Law belum diterapkan pada dunia Hukum di Indonesia.

    Selain itu, masih terdapat kekurangan pada hal pengadaan infrastruktur teknologi telekomunikasi, multimedia dan informasi yang merupakan prasyarat terselenggaranya IT untuk pendidikan sementara penetrasi komputer (PC) di Indonesia masih rendah. Biaya penggunaan jasa telekomunikasi juga masih mahal bahkan jaringan telepon masih belum tersedia di berbagai tempat di Indonesia.. Untuk itu perlu dipikirkan akses ke Internet tanpa melalui komputer pribadi di rumah. Sementara itu tempat akses Internet dapat diperlebar jangkauannya melalui fasilitas di kampus, sekolahan, dan bahkan melalui warung Internet. Hal ini tentunya dihadapkan kembali kepada pihak pemerintah maupun pihak swasta; walaupun pada akhirnya terpulang juga kepada pemerintah. Sebab pemerintahlah yang dapat menciptakan iklim kebijakan dan regulasi yang kondusif bagi investasi swasta di bidang pendidikan. Sehingga guru-guru di Indonesia memiliki kesempatan dalam memanfaatkan TIK. Harapan kita bersama hal ini dapat diatasi sejalan dengan perkembangan telekomunikasi yang semakin canggih dan semakin murah.

    Kendala lain yang dihadapi guru bahasa Indonesia khususnya di lapangan ketika membuat persiapan pembelajaran adalah terbatasnya buku sumber materi pembelajaran. Keberadaan perpustakaan di sekolah pun tidak dapat menjawab permasalahan kurangnya sumber belajar. Keterbatasan anggaran yang ada di sekolah semakin melengkapi alasan kurangnya ketesediaan sumber bahan ajar.

    Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang pesat dewasa ini telah memberikan alternatif pemecahan masalah bagi guru dalam mengatasi kesulitan sumber bahan ajar. Internet menyediakan solusi bagi guru dalam membuat persiapan pembelajaran yang berbasis TIK. Guru tinggal mengakses dan berselancar di internet untuk mencari dan menemukan materi yang dibutuhkan sebagai bahan ajar di kelas.

    Interconnected Network atau lebih populer dengan sebutan internet adalah sebuah sistem komunikasi global yang menghubungkan komputer-komputer dan jaringan-jaringan komputer di seluruh dunia. Internet dapat memberikan informasi yang mendidik, positif dan bermanfaat bagi manusia, namun juga dapat dijadikan lahan kejelekan dan kemaksiatan. Hanya etika, mental dan keimanan masing-masing lah yang menentukan batas-batasnya.

    Dengan adanya internet sejatinya persoalan kurangnya sumber bahan ajar tidak menjadi persoalan lagi bagi guru, karena internet sendiri adalah lautan informasi di belantara dunia maya. Apapun dapat diakses oleh guru asalkan tahu caranya. Internet adalah pintu gerbang informasi yang terbuka sehingga siapapun dapat mengakses, termasuk siswa. Saat ini, sulit sekali ditemukan siswa yang tidak mengenal dan akrab dengan internet terutama mereka yang tinggal di daerah perkotaan.

    Internet  telah merubah pola-pola komunikasi, pola sosial dan tatanan nilai yang selama ini telah mapan di masyarakat, bahkan secara ekstrim telah menafikan batas-batas teritorial antar negara. Informasi bukan lagi milik mereka yang pintar, melainkan milik mereka yang memiliki akses ke media informasi. Jika selama ini guru dipandang sebagai pigur yang serba tahu dan pemegang otoritas tunggal di kelas, maka seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, anggapan tersebut dapat dikoreksi, apalagi jika guru tersebut buta internet. Di jaman sekarang, seorang siswa sah-sah saja lebih pintar dari gurunya karena siswa tersebut sering mengakses internet dan membaca buku ketimbang gurunya.

    Namun demikian, saat ini kesadaran akan pentingnya pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi bagi kepentingan dunia pendidikan sudah merasuki semua stockholder pendidikan. Ketika guru mengajar di kelas multimedia, maka disamping menggunakan aplikasi powerpoint sebagai software presentasi, maka guru dapat memasukkan bahan ajar yang berbasis TIK ke dalam presentasi tersebut. Powerpoint dalam kaitannya dengan bahan ajar yang berbasis TIK tidak lebih hanya sebagai media yang menampilkan bahan ajar tersebut supaya lebih menarik. Sementara bahan ajar itu sendiri bersumber dari internet atau pun dibuat sendiri oleh guru dengan menggunakan software tertentu. Selain itu, pemanfaatan TIK untuk pembelajaran oleh guru masih banyak yang belum bisa menguasai bahkan belum mengenalnya, ini masih terlihat banyak sekali yang perlu dikoreksi dan diperbaiki, salah satunya pada salah satu seminar ada pembicara menanyakan, Apakah sudah memiliki Blog pribadi di Internet, Jawaban dari peserta seminar yang menjawab sudah memiliki Blog hanya 10 orang dari total peserta yang hadir yaitu 600 orang sungguh hal yang jika mengingat fungsi blog bisa digunakan untuk media pembelajaran yang sangat baik tapi nyatanya banyak yang tidak bisa atau belum punya blog tersebut.

    Pendidikan berbasis TIK memang memerlukan anggaran yang amat besar. Tetapi, untuk melaksanakan program penggunaan TIK tersebut, apa yang harus dilakukan pemerintah adalah menyusun naskah akedemis atau pun semacam blue book yang akan digunakan sebagai acuan atau pedoman untuk pelaksanaan program tersebut. Katakanlah bahwa anggaran untuk pelaksanaan program TIK tersebut memang sudah disiapkan sepenuhnya oleh pemerintah.

    1. II. Model Pembelajaran Keterampilan Berbahasa Berbasis TIK

    1. Aspek Keterampilan Berbahasa dalam  Pembelajaran

    Keterampilan berbahasa merupakan aspek kemampuan berbahasa yang menjadi sasaran tumpu para pebelajar bahasa. Oleh sebab itu, dalam dunia pendidikan para pengajar terus berupaya meningkatkan keberhasilan dalam pembelajaran bahasa melalui pencapaian kompetensi berbahasa, yakni menyimak, membaca, berbicara, dan menulis. Bahkan, dalam KTSP untuk SMP dan SMA (MA) dinyatakan bahwa standar kompetensi lulusan adalah sebagai berikut:

    1. Mendengarkan

    Memahami wacana lisan dalam kegiatan penyampaian berita, laporan, saran, berberita, pidato, wawancara, diskusi, seminar, dan pembacaan karya sastra berbentuk puisi, cerita rakyat, drama, cerpen, dan novel

    2. Berbicara

    Menggunakan wacana lisan untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam kegiatan berkenalan, diskusi, bercerita, presentasi hasil penelitian, serta mengomentari pembacaan puisi dan pementasan drama

    3. Membaca

    Menggunakan berbagai jenis membaca untuk memahami wacana tulis teks nonsastra berbentuk grafik, tabel, artikel, tajuk rencana, teks pidato, serta teks sastra berbentuk puisi, hikayat, novel, biografi, puisi kontemporer, karya sastra berbagai angkatan dan sastra Melayu klasik

    4. Menulis

    Menggunakan berbagai jenis wacana tulis untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam bentuk teks narasi, deskripsi, eksposisi, argumentasi, teks pidato, proposal, surat dinas, surat dagang, rangkuman, ringkasan, notulen, laporan, resensi, karya ilmiah, dan berbagai karya sastra berbentuk puisi, cerpen, drama, kritik, dan esei.

    Dengan mencermati SKL tersebut kita dapat berkreasi menggunakan berbagai model pembelajaran sehingga semua butir SKL terpenuhi pada akhir jenjang pendidikan SMA. Butir-butir SKL tersebut mengarah pada penggunaan bahasa. Dengan kata lain, pembelajaran bahasa di sekolah diarahkan untuk keterampilan berbahasa. Pembelajarannya bersifat integratif karena setiap aspek keterampilan berbahasa dikemas dalam matajar Bahasa dan Sastra Indonesia. Pembelajaran bahasa di perguruan tinggi memiliki karakteristik pencapaian hasil belajar tersendiri karena setiap aspek keterampilan berbahasa dikemas dalam bentuk matakuliah. Karakteristik tersebut sesuai dengan kompetensi yang diharapkan dimiliki mahasiswa.untuk dapat mencapai kompetensi tersebut para dosen berupaya menerapkan berbagai model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik matakuliah yang diampunya. Karena setiap aspek keterampilan berbahasa menjadi sosok matakuliah, pembelajaran bahasa di perguruan tinggi (khususnya di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia) berlangsung secara parsial. Setiap matakuliah keterampilan berbahasa berlangsung sesuai dengan karakteristik pencapaian hasil belajarnya. Dengan demikian, produk akhir pembelajaran berupa kemampuan yang dimiliki mahasiswa secara terpisah.

    2. Pemanfaatan TIK dalam Pembelajaran Keterampilan Berbahasa

    Teknologi merupakan produk kreatif manusia untuk memenuhi berbagai keperluan hidup secara efektif. Saat ini teknologi informasi termasuk karya besar manusia untuk menge-jawantahkan segala keinginannya. Internet sebagai bagian dari produk teknologi informasi berkembang pesat dan telah membawa perubahan yang luar biasa pada segala aspek kehidupan manusia. Tak pelak lagi internet telah memengaruhi pola berkomunikasi antarmanusia dalam dunia maya. Melalui internet setiap orang dapat berkomunikasi. Bahkan, dunia pendidikan pun tidak luput untuk memanfaatkannya sehingga kelas maya dapat tercipta.

    Internet menawarkan banyak fasilitas untuk dunia pendidikan. Fasilitas komunikasi yang disediakan internet telah memungkinkan kelas online menjadi kenyataan dengan memper-gunakan halaman web berbasis teks, surat elektronik (e-mail), pertukaran teks dan atau suara secara langsung (Internet Relay Chat), dan berbagai fasilitas multimedia interaktif. Dengan demikian, kegiatan belajar-mengajar dapat dilaksanakan, baik yang bersifat tertunda (delayed, seperti melalui e-mail) maupun secara langsung atau instan (real-time, misalnya melalui IRC dan audio-video conferencing). Pengajar dan peserta didik dapat melakukan komunikasi lintas waktu sehingga pembelajaran dapat dimasimalkan untuk pencapaian hasil belajar. Sejauh ini cukup banyak penelitian dan eksperimen yang berkenaan dengan pemanfaatan komputer dan internet untuk kegiatan belajar bahasa. Penelitian Davis dan Thiede tahun 2000 (Purnawarman, 2002) menunjukkan bahwa asynchronous electronic discourse dalam pelajaran menulis mampu menumbuhkan kesadaran pembelajaran linguistik dan gaya menulis. Chen et al. (Purnawarman, 2002) melakukan penelitian dengan melibatkan mahasiswa di Jurusan Bahasa dan Sastra Asing pada National Cheng Kung University dengan fokus pembelajaran menulis bahasa Inggris melalui internet. Penelitian ini membuktikan bahwa pertukaran pesan melalui internet mampu membantu mahasiswa mengembangkan keterampilan komunikasi baru dan memperkuat kemampuan mereka berbahasa Inggris.

    Penelitian lain dilakukan Susana M. Satillo dari Montclair State University mengenai fungsi wacana dan kompleksitas sintaktis pada komunikasi sinkronis dan asinkronis. Penelitian ini dilakukan untuk menjawab dua pertanyaan, yaitu (1) apakah fungsi wacana yang disajikan pada diskusi sinkronis pembelajar ESL dalam penugasan membaca, baik secara kuantitatif maupun kualitataif berbeda dengan yang dilakukan melalui diskusi asinkronis, dan (2) cara CMC (Computer-Mediated Communication) yang mana yang memperlihatkan keluaran pembelajar yang lebih kompleks secara sintaktis. Hasilnya menunjukkan bahwa secara kuantitatif dan tipe fungsi wacana yang disajikan pada diskusi sinkronis sama dengan tipe modifikasi interaksional yang ditemukan pada percakapan bersemuka. Fungsi wacana pada diskusi asinkronis lebih dipaksakan daripada diskusi sinkronis dan sama pada lingkup evaluasi respon pertanyaan terhadap kelas bahasa yang biasa. Penangguhan diskusi asinkronis memberikan peluang kepada pebelajar untuk memproduksi bahasa yang kompleks secara sintaktis. Selain itu, Flank meneliti kompleksitas sintaktis dalam pengembalian informasi melalui multimedia (http:// http://www.ai.mit.edu/people/jimmylin/papres/ flank), Gouvea meneliti kompleksitas sintaktis bahasa Portugis dan Bahasa Inggris orang Brasil melalui Rapid Serial Visual Presentation (http://www.umd. edu/~gouvea/A Gouvea_WP_RSVP.PDF), dan Leather meneliti gaya mengajar dengan salah satunya menggunakan program komputer. Dengan mencermati berbagai penelitian tersebut, tampaknya dalam pembelajaran keterampilan berbahasa para pengajar bahasa perlu melakukan inovasi pembelajaran dengan memanfaatkan komputer sebagai media pembelajaran. Berikut ini pemakalah sajikan beberapa topik dari aspek keterampilan berbahasa yang dapat dilakukan dengan memanfaatkan TIK dalam model pembelajarannya.

    ASPEK TOPIK
    Menyimak
    1. Menangkap pokok pikiran
    2. Membedakan bunyidistingtif
    3. Mengungkap kembali tuturan
    Membaca
    1. Meningkatkan kecepatan membaca
    2. Menangkap pokok pikiran
    3. Menemukan topic tulisan
    Berbicara
    1. Pemroduksian tuturan
    2. Keefektifan kalimat
    3. Keruntutan gagasan
    4. Ketepatan artikulasi
    Menulis
    1. Menulis jurnal
    2. Menulis artikel
    3. Menulis bersama
    4. Menulis prosa fiksi

    3. Model Pembelajaran Keterampilan Membaca

    Sebuah model pembelajaran yang berbasis TIK dapat dilaksanakan dengan baik apabila segala perangkatnya dapat disiapkan dengan baik pula. Salah satu perangkat yang tidak dapat dihindari adalah kemampuan pengajar mengenal berbagai program yang berkenaan dengan teknologi yang digunakan. Selain itu, peranti keras dan peranti lunak tersedia sehingga pembelajarannya dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. Pemanfaatan TIK untuk pembelajaran keterampilan berbahasa tidak hanya tertuju pada kegiatan belajar-mengajar, tetapi juga dapat dilakukan untuk menghasilkan media pembelajaran. Misalnya, Rosita (2007), mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FPBS UPI, telah mampu mempertanggungjawabkan skripsinya dengan judul “Pengembangan Software Latihan Keterampilan Membaca Cepat sebagai Upaya Meningkatkan Kecepatan Efektif Membaca (KEM) Siswa Sekolah Menengah Pertama”. Produk akhirnya berupa peranti lunak latihan keterampilan membaca yang bersifat audio-visual yang dikemas secara menarik dan interaktif dengan menggunakan program Macromedia Flash 8. Hasil ujicobanya menunjukkan 18 siswa (96,84%) dari 19 siswa menunjukkan respon positif.

    Sebagaimana yang tersaji pada bagian topik untuk setiap aspek keterampilan berbahasa, model pembelajaran keterampilan membaca dapat dilakukan dengan menggunakan perangkat teknologi, baik yang bersifat interaktif maupun yang tidak. Tatarancang untuk model pembelajarannya tidak berbeda dengan model pembelajaran lainnya. Yang membedakannya terletak pada kegiatan belajar-mengajar. Pada tahun 2007 Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FPBS UPI tengah melaksanakan model pembelajaran berbasis TIK dengan fokus pada matakuliah Membaca dan Menulis. Untuk saat ini pemakalah belum bisa mengumumkan hasilnya karena kegiatan perkuliahan baru berakhir belum dilaksanakan proses penilaian hasil berkuliah. Meskipun demikian, untuk memberikan gambaran mengenai model pembelajaran keterampilan berbahasa di bawah ini pemakalah sajikan sebuah model pembelajaran keterampilan Membaca berbasis internet.

    A. Topik         : Membaca Kritis untuk Menulis

    B. Tujuan    : Setelah perkuliahan selesai mahasiswa diharapkan mampu membuat tulisan berdasarkan hasil membaca kritis yang diunduh dari internet.

    C. Kegiatan Pembelajaran :

    Pertemuan 1: Pengantar perkuliahan secara offline untuk menindaklanjuti tugas Membaca.

    Pertemuan 2: Secara online siswa mengunduh berbagai informasi sesuai dengan topik yang dipilihnya dengan produk akhir berupa ringkasan setiap informasi yang diunduh.

    Pertemuan 3: Secara offline siswa melaporkan hasil kegiatan membaca kritis melalui internet. Dalam pertemuan ini setiap mahasiswa mengurutkan informasi secara logis. Setelah itu, dilakukan diskusi untuk menyempurnakan gagasan.

    Pertemuan 4: Secara online siswa mengunduh informasi tambahan untuk menyempurnakan gagasan.

    Pertemuan 5: Secara offline siswa mengembangkan tulisan berdasarkan informasi yang diunduh dari internet.

    D. Organisasi Materi:

    a. Topik tugas akhir

    b. Informasi yang sesuai dengan topik tugas akhir membaca kritis

    c. Kerangka tulisan sesuai dengan topik

    E. Metode Pembelajaran:

    a. Penelusuran situs

    b. Diskusi

    F. Sumber dan Media Pembelajaran: Internet dengan berbagai situsnya

    G. Unsur Penilaian:

    a. Keruntutan gagasan

    b. Ketepatan pengambilan informasi

    c. Kelengkapan informasi Model pembelajaran keterampilan membaca tersebut tidak hanya untuk produk akhir berupa tulisan, tetapi juga dapat dilakukan untuk meningkatkan keterampilan berbicara dengan menggunakan informasi yang diunduh dari internet. Melalui kegiatan seperti itu diharapkan tulisan atau pembicaraan lebih berkualitas.

    4. Model Pembelajaran Menulis melalui Internet

    Selain keterampilan membaca, TIK dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan keterampilan mahasiswa dalam menulis. Kegiatan tersebut telah dilakukan oleh Pupung Purnawarman, dosen Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni UPI, dalam matakuliah Writing IV. Model pembelajaran yang dilakukannya secara offline dan online dengan jumlah kegiatan online sebanyak 10 pertemuan. Pertemuan online mempergunakan mailing list, fasilitas yang disediakan oleh yahoo groups dengan dimoderatori oleh dosen.

    Langkah-langkah pembelajarannya dilaksanakan sebagai berikut.

    1) Siswa ditugasi untuk menjelajahi internet dan berbagai situs yang tersedia sebanyak mungkin untuk mencari, menemukan, dan mengunduh artikel berita dan materi kuliah yang sesuai dengan topik dan tugas yang diberikan.

    2) Siswa membuat draf tulisan awal pada pertemuan offline lalu mengirimkannya ke milis sehingga semua anggota milis dapat membaca tulisan masing-masing.

    3) Untuk setiap tugas, siswa diminta memberikan komentar terhadap tulisan empat siswa lain.

    4) Siswa diminta memperbaiki tulisan awal dan membahas tulisan yang telah direvisi pada pertemuan offline.

    5) Siswa mengirimkan esai ke milis Writing IV dan memberikan komentar terhadap komentar yang mereka terima dari mahasiswa lain.

    6) siswa mendiskusikan komentar pada pertemuan offline.

    7) siswa diminta untuk membuat tulisan akhir.

    Dengan mengikuti beberapa tahapan tersebut, para siswa mengalami secara langsung pembelajaran kolaboratif, penilaian oleh mitra sebaya, dan pemanfaatan internet. Kegiatan-kegiatan tersebut memberikan pajanan pluralisme gagasan dan sudut pandang sehingga nilai-nilai toleransi dan keterampilan berpikir kritis dapat dikembangkan.

    5. Solusi yang Bisa Ditawarkan dalam Mengatasi Problematika Pembelajaran Bahasa Indonesia dan  Perkembangan TIK

    Untuk membekali terjadinya pergeseran orientasi pendidikan di era global dalam mewujudkan kualitas sumber daya manusia yang unggul, diperlukan strategi pengembangan pendidikan, antara lain:

    1.  Mengedepankan model perencanaan pendidikan (partisipatif) yang berdasarkan pada need assessment dan karakteristik masyarakat. Partisipasi masyarakat dalam perencanaan pendidikan merupakan tuntutan yang harus dipenuhi.

    2.  Peran pemerintah bukan sebagai penggerak, penentu dan penguasa dalam pendidikan, namun pemerintah hendaknya berperan sebagai katalisator, fasilitator dan pemberdaya masyarakat.

    3.  Penguatan fokus pendidikan, yaitu fokus pendidikan diarahkan pada pemenuhan kebutuhan masyarakat, kebutuhan stakeholders, kebutuhan pasar dan tuntutan teman saing.

    4.  Pemanfaatan sumber luar (out sourcing), memanfaatkan berbagai potensi sumber daya (belajar) yang ada, lembaga-lembaga pendidikan yang ada, pranata-pranata kemasyarakatan, perusahaan/industri, dan lembaga lain yang sangat peduli pada pendidikan.

    5.  Memperkuat kolaborasi dan jaringan kemitraan dengan berbagai pihak, baik dari instansi pemerintah mapun non pemerintah, bahkan baik dari lembaga di dalam negeri maupun dari luar negeri.

    6.    Menciptakan soft image pada masyarakat sebagai masyarakat yang gemar belajar, sebagai masyarakat belajar seumur hidup.

    7.   Pemanfaatan teknologi informasi, yaitu: lembaga-lembaga pendidikan baik jalur pendidikan formal, informal maupun jalur non formal dapat memanfaatkan teknologi informasi dalam mengakses informasi dalam mengembangkan potensi diri dan lingkungannya (misal; penggunaan internet, multi media pembelajaran, sistem informasi terpadu, dsb).

    PENUTUP

    Pendidikan tidak bisa dilepaskan dari perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi. TIK bukan lagi mejadi bahan asing dalam dunia pendidikan tetapi sudah menjadi penting dan sangat mendukung dalam dunia pendidikan. Salah satu bukti pentingnya TIK adalah untuk pemerataan pendidikan dengan kondisi geografis Indonesia yang luas sangat diperlukan TIK. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin pesat telah merambah berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk menyentuh dunia pendidikan. Karena itu, sekolah dan guru tidak dapat mengelak dari trend ini hanya karena persoalan anggaran atau pun persoalan keterbatasan akses dan wawasan.

    Guru sejatinya memberi contoh kepada siswa bahwa teknologi merupakan suatu keniscayaan yang sedang dihadapi, sehingga penguasaan teknologi adalah sesuatu yang harus direbut oleh siswa. Pemanfaatan teknologi infomasi dan komunikasi dalam kegiatan pembelajaran perlu diusahakan oleh guru sesuai dengan kemampuan masing-masing sekolah dan guru bersangkutan. Pelatihan internet dan aplikasi tertentu seperti microsoft Office khususnya powerpoint atau aplikasi membuat animasi penting dilakukan untuk para guru di setiap sekolah agar para guru mampu melaksanakan kegiatan pembelajaran berbasis TIK. Pelatihan tersebut baiknya diadakan di setiap sekolah dengan melibatkan seluruh guru mata pelajaran sehingga akan ada pemerataan pemahaman tentang materi pelatihan yang diberikan.

    Bahwa terdapat tantangan-tantangan seperti keterbatasan anggaran untuk melengkapi infrastruktur yang mendukung pada penguasaan teknologi informasi dan komunikasi ini adalah fakta, namun satu hal yang perlu dilakukan adalah membuat satu langkah awal yang mengarah pada penguasaan teknologi baik oleh guru maupun oleh siswa. Satu langkah awal selalu diikuti oleh langkah berikutnya dan terkadang oleh suatu lompatan besar. Karena itu, sekolah dan guru harus memprioritaskan penguasaan dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam program prioritas. Seluruh sumber daya yang ada secara sinergis diarahkan pada pencapaian program ini sehingga diharapkan sebagaimana target pemerintah bahwa tahun 2009, 75% sekolah menengah telah memiliki akses internet dan menerapkan TIK dalam kegiatan pembelajaran di sekolah.

    Daftar Pustaka

    Alwi, Hasan, Dendy Sugono, dan A. Rozak Zaidan. (Ed.). 2000. Bahasa Indonesia dalam Era Globalisasi. Jakarta: Pusat Bahasa

    Arifin, I. 2000. Profesionalisme Guru: Analisis Wacana Reformasi Pendidikan dalam Era Globalisasi. Simposium Nasional Pendidikan di Universitas Muhammadiyah Malang, 25-26 Juli 2001

    Efendi, Anwar (Ed). 2008. Bahasa dan Sastra dalam Berbagai Perspektif. Yogyakarta: Tiara Wacana

    Harina Yuhetty dan Hardjito, 2004, Edukasi Net Pembelajaran Berbasis Internet : Tantangan dan Peluangnya dalam Mozaik Teknologi Pendidikan (Dewi salma dan Eveline Siregar), Kencana Media Group dan Universitas Negeri Jakarta.

    Idris, Naswil, 2001, “Pengembangan dan Peranan Sumber Daya Manusia di Era Teknologi Informasi”, Semarang

    Moeliono, Anton. 2000. “Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia dalam Era Globalisasi” dalam Hasan Alwi, Dendy Sugono, dan A. Rozak Zaidan (Ed.). Jakarta: Pusat Bahasa

    Munsyi, Alif Danya. 2005. Bahasa Menunjukkan Bangsa. Jakarta: KPG

    Pateda, Mansoer. 1991. “Pengaruh Arus Globalisasi terhadap Pembinaan Bahasa di Indonesia”. Makalah Munas V dan Semloknas I HPBI: Padang: Panitia Penyelenggara

    Rakhmat, J.1999 . Psikologi Komunikasi. Bandung: Rosdakarya

    Schiffrin, Deborah. 2007. Ancangan Kajian Wacana (terjemahan dari: Approaches To Discourse). Yogyakarta: Pustaka Pelajar

    Semiawan, C.R. 1991. Mencari Strategi Pengembangan Pendidikan Nasional Menjelang Abad XXI. Jakarta: Grasindo

    Thomas, Linda dan Shan Wareing. 2007. Bahasa, Masyarakat dan Kekuasaan (Terj. dari: Language, Society and Power). Yogyakarta: Pustaka Pelajar

    W. Jorgensen, Marianne dan Louise J. Phillips. 2007. Analisis WacanaTeori dan Metode (terjemahan dari: Discourse Analisys). Yogyakarta: Pustaka Pelajar

    PROSPEK PENGGUNAAN TIK DALAM PEMBELAJARAN BAHASA DITINJAU DARI FAKTOR PENDUKUNG DAN PENGHAMBAT

    (Oleh : Eha yaniarti, Een Rochaeni, Yuyun Jumiati, & Nurlelawati)

    PENGANTAR

    Dalam dunia pendidikan, khususnya pendidikan bahasa, penggunaan bahasa dikemas dalam empat aspek keterampilan berbahasa (menyimak, membaca, berbicara, dan menulis). Keempat aspek keterampilan berbahasa tersebut menjadi landasan pembelajaran sejak SD hingga perguruan tinggi. Setiap pebelajar diberdayakan kompetensinya untuk menguasai keempat aspek tersebut (meskipun sulit mencari orang yang menguasai keempatnya).

    Dikaitkan dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, aspek keterampilan berbahasa menjadi komponen menarik untuk dikaji. Suatu teknologi ditemukan dan dikembangkan untuk kemaslahatan umat manusia. Dengan teknologi segala hajat hidup dapat dilakukan dengan cara yang efektif dan efisien. Bahkan, para pemakai bahasa pun dapat memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kompetensi berbahasa, baik secara reseptif maupun produktif.

    Dalam makalah ini pemakalah mencoba memberikan peluang-peluang untuk menggunakan teknologi sebagai media pembelajaran keterampilan berbahasa. Penggunaan teknologi sebagai media pembelajaran, ternyata, mampu meningkatkan hasil belajar bahasa. Misalnya, penggunaan audiolingual dan audio visual telah berjaya meningkatkan hasil belajar bahasa (lihat Richards and Rogers, 1993). Pembelajaran yang seperti itu telah menjadi bagian dalam upaya meningkatkan hasil belajar.

    Problematika yang dihadapi oleh guru bahasa Indonesia dalam era globalisasi  terkait dengan perkembangan TIK sangat krusial. Perkembangan Teknologi informasi dan komunikasi di era globlaisasi saat ini berimplikasi pada pergeseran paradigma dalam sistem pendidikan. Paradigma baru pembelajaran pada era globalisasi memberikan tantangan yang besar bagi guru. Pada era ini dalam melaksanakan profesinya, guru dituntut lebih meningkatkan profesionalitasnya. Menurut para ahli, profesionalisme menekankan kepada penguasaan ilmu pengetahuan atau kemampuan manajemen beserta strategi penerapannya. Guru yang profesional pada dasarnya ditentukan oleh attitudenya yang berarti pada tataran kematangan yang mempersyaratkan keinginan dan kemampuan, baik secara intelektual maupun kondisi fisik yang prima.

    Maister (1997) mengemukakan bahwa profesionalisme bukan sekadar pengetahuan teknologi dan manajemen tetapi lebih merupakan sikap, pengembangan profesionalisme lebih dari seorang teknisi bukan hanya memiliki keterampilan yang tinggi tetapi memiliki suatu tingkah laku yang dipersyaratkan. Menurut Arifin (2000), guru yang profesional dipersyaratkan mempunyai; 1) dasar ilmu yang kuat sebagai pengejawantahan terhadap masyarakat teknologi dan masyarakat ilmu pengeta­huan di era globalisasi, 2) penguasaan kiat-kiat profesi berdasarkan riset dan praksis pendi-dikan yaitu ilmu pendidikan sebagai ilmu praksis bukan hanya merupakan konsep-konsep belaka. Pendidikan merupakan proses yang terjadi di lapangan dan bersifat ilmiah, serta riset pendidikan hendaknya diarahkan pada praksis pendidikan masyarakat Indonesia, 3) pengembangan kemampuan profesional berkelanjutan, profesi guru merupakan profesi yang berkembang terus menerus dan berkesinambungan antara LPTK dengan praktek pendidikan.

    Dengan adanya persyaratan profesionalisme guru ini, perlu adanya paradigma baru untuk melahirkan profil guru yang profesional di era globalisasi, yaitu; 1) memiliki kepribadian yang matang dan berkembang, 2) penguasaan ilmu yang kuat, 3) keterampilan untuk mem-bangkitkan peserta didik kepada sains dan teknologi, dan 4) pengembangan profesi secara berkesinambungan. Keempat aspek tersebut merupakan satu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisahkan dan ditambah dengan usaha lain yang ikut mempengaruhi perkembangan profesi guru yang profesional.

    Apabila syarat-syarat profesionalisme guru tersebut terpenuhi, akan melahirkan profil guru yang kreatif dan dinamis yang dibutuhkan pada era globalisasi. Hal ini sejalan dengan pendapat Semiawan (1999), bahwa pemenuhan persyaratan guru profesional akan mengubah peran guru yang semula sebagai orator yang verbalistis menjadi berkekuatan dinamis dalam menciptakan suatu suasana dan lingkungan belajar yang inovatif. Dalam rangka peningkatan mutu pendidikan, guru memiliki multi fungsi yaitu sebagai fasilitator, motivator, informator, komunikator, transformator, change agent, inovator, konselor, evaluator, dan administrator.

    1. I. Kaitan TIK dengan Pembelajaran Bahasa Indonesia
    1. Pengaruh Globalisasi Terhadap Pembelajaran Bahasa Indonesia

    Era globalisasi merupakan tantangan bagi bangsa Indonesia untuk dapat mempertahankan diri di tengah-tengah pergaulan antarbangsa yang sangat rumit. Untuk itu, bangsa Indonesia harus mempersiapkan diri dengan baik dan penuh perhitungan. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah masalah jati diri bangsa yang diperlihatkan melalui jati diri bahasa. Jati diri bahasa Indonesia memperlihatkan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang sederhana, Tatabahasanya mempunyai sistem sederhana, mudah dipelajari, dan tidak rumit. Kesederhanaan dan ketidakrumitan inilah salah satu hal yang mempermudah bangsa asing ketika mempelajari bahasa Indonesia. Setiap bangsa asing yang mempelajari bahasa Indonesia dapat menguasai dalam waktu yang cukup singkat. Namun, kesederhaan dan ketidakrumitan tersebut tidak mengurangi kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia dalam pergaulan dan dunia kehidupan bangsa Indonesia di tengah-tengah pergaulan antarbangsa. Bahasa Indonesia telah membuktikan diri dapat dipergunakan untuk menyampaikan pikiran-pikiran yang rumit dalam ilmu pengetahuan dengan jernih, jelas, teratur, dan tepat. Bahasa Indonesia menjadi ciri budaya bangsa Indonesia yang dapat diandalkan di tengah-tengah pergaulan antarbangsa pada era globalisasi ini. Bahkan, bahasa Indonesia pun saat ini menjadi bahan pembelajaran di negara-negara asing seperti Australia, Belanda, Jepang, Amerika Serikat, Inggris, Cina, dan Korea Selatan.

    Tanggung jawab terhadap perkembangan bahasa Indonesia bukan hanya dipundak guru bahasa Indonesia khususnya dalam pembelajaran, namun terletak di tangan pemakai bahasa Indonesia sendiri. Baik buruknya, maju mundurnya, dan tertatur kacaunya bahasa Indonesia merupakan tanggung jawab setiap orang yang mengaku sebagai warga negara Indonesia yang baik. Setiap warga negara Indonesia harus bersama-sama berperan serta dalam membina dan mengembangkan bahasa Indonesia itu ke arah yang positif. Maju bahasa, majulah bangsa. Kacau bahasa, kacaulah pulalah bangsa. Keadaan ini harus disadari benar oleh setiap warga negara Indonesia sehingga rasa tanggung jawab terhadap pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia akan tumbuh dengan subur di sanubari setiap pemakai bahasa Indonesia.

    Era globalisasi merupakan tantangan bagi bangsa Indonesia untuk dapat mempertahankan diri di tengah-tengah pergaulan antarbangsa yang sangat rumit. Untuk itu, bangsa Indonesia harus mempersiapkan diri dengan baik dan penuh perhitungan. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah masalah jati diri bangsa yang diperlihatkan melalui jati diri bahasa. Jati diri bahasa Indonesia memperlihatkan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang sederhana, Tatabahasanya mempunyai sistem sederhana, mudah dipelajari, dan tidak rumit. Kesederhanaan dan ketidakrumitan inilah salah satu hal yang mempermudah bangsa asing ketika mempelajari bahasa Indonesia. Setiap bangsa asing yang mempelajari bahasa Indonesia dapat menguasai dalam waktu yang cukup singkat. Namun, kesederhaan dan ketidakrumitan tersebut tidak mengurangi kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia dalam pergaulan dan dunia kehidupan bangsa Indonesia di tengah-tengah pergaulan antarbangsa. Bahasa Indonesia telah membuktikan diri dapat dipergunakan untuk menyampaikan pikiran-pikiran yang rumit dalam ilmu pengetahuan dengan jernih, jelas, teratur, dan tepat. Bahasa Indonesia menjadi ciri budaya bangsa Indonesia yang dapat diandalkan di tengah-tengah pergaulan antarbangsa pada era globalisasi ini. Bahkan, bahasa Indonesia pun saat ini menjadi bahan pembelajaran di negara-negara asing seperti Australia, Belanda, Jepanh, Amerika Serikat, Inggris, Cina, dan Korea Selatan.

    Tanggung jawab terhadap perkembangan bahasa Indonesia bukan hanya dipundak guru bahasa Indonesia khususnya dalam pembelajaran, namun terletak di tangan pemakai bahasa Indonesia sendiri. Baik buruknya, maju mundurnya, dan tertatur kacaunya bahasa Indonesia merupakan tanggung jawab setiap orang yang mengaku sebagai warga negara Indonesia yang baik. Setiap warga negara Indonesia harus bersama-sama berperan serta dalam membina dan mengembangkan bahasa Indonesia itu ke arah yang positif. Maju bahasa, majulah bangsa. Kacau bahasa, kacaulah pulalah bangsa. Keadaan ini harus disadari benar oleh setiap warga negara Indonesia sehingga rasa tanggung jawab terhadap pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia akan tumbuh dengan subur di sanubari setiap pemakai bahasa Indonesia.

    1. Perkembangan TIK Bagi Guru Bahasa Indonesia

    Peranan guru bahasa Indonesia dalam pendidikan terletak pada tugas dan tanggung jawabnya dalam melaksanakan profesinya sebagai alat pendidikan. Tugas dan tanggung jawab tersebut ber­kaitan erat dengan kemampuan dasar yang disyaratkan untuk memangku jabatan profesi. Ke­mampuan dasar itu adalah kompetensi guru, yang merupakan profesionalisme guru dalam melaksanakan profesinya. Kemerosotan pendidikan bukan diakibatkan oleh kurikulum tetapi oleh kurangnya kemampuan profesionalisme guru dan keengganan belajar siswa. Profesionalisme menekan-kan kepada penguasaan ilmu pengetahuan atau kemampuan manajemen beserta strategi penerapannya. Profesionalisme bukan sekadar pengetahuan teknologi dan manajemen tetapi lebih merupakan sikap, pengembangan profesionalisme lebih dari seorang teknisi bukan hanya memiliki keterampilan yang tinggi tetapi memiliki suatu tingkah laku yang dipersyaratkan.

    Ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) merupakan salah satu hasil usaha manusia untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, yang telah dimulai pada permulaan kehidupan manusia. Pendidikan serta ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) mempunyai kaitan yang erat seperti diketahui bahwa iptek menjadi bagian utama dalam isi pendidikan. Dengan kata lain pendidikan berperan sangat penting dalam pewarisan dan perkembangan iptek.

    Seorang guru yang menguasai teknologi informasi salah satunya adalah guru yang dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru mulai dari perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, penilaian hasil belajar, analisis hasil belajar maupun kegiatan remedial dan enrichment telah memanfaatkan komputer secara optimal. Dokumen administrasi guru semuanya tersimpan secara digital dan setiap saat dapat diakses dan diperbaharui sesuai dengan kebutuhan. Dengan memanfaatkan teknologi informasi, persoalan waktu dan kesulitan teknis dapat dipangkas sehingga penyusunan dokumentasi administrasi pembelajaran dan dokumentasi soal-soal menjadi lebih mudah, efektif dan efisien.

    Dengan perkembangan iptek dan kebutuhan masyarakat yang makin kompleks maka pendidikan dalam segala aspeknya mau tidak mau harus mengakomodasi perkembangan itu, baik perkembangan iptek maupun perkembangan masyarakat. Lembaga pendidikan utamanya pendidikan jalur sekolah harus mampu mengakomodasi dan mengantisipasi perkembangan iptek. Bahan ajaran seyogianya hasil perkembangan iptek mutakhir, baik yang berkaitan dengan hasil perolehan informasi, maupun cara memperoleh informasi itu dan manfaatnya bagi masyarakat. Relevansi bahan ajaran dan cara penyajiannya dengan hakikat ilmu, sumber bahan ajaran itu merupakan satu tuntutan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi.

    Di banyak negara maju, teknologi TIK justru telah menjadi infrastruktur utama dalam hal proses pembelajaran. Lain halnya di Indonesia yang justru mengalami degradasi percepatan dalam hal mengikuti perkembangan teknologi dalam proses belajar mengajar. Khususnya pada sebagian besar sekolah-sekolah di Indonesia masih menggunakan metode pembelajaran pada era 1990an. Banyak faktor yang menyebabkan sistem pembelajaran di Indonesia belum bisa mengikuti perkembangan teknologi. Beberapa diantaranya adalah kurangnya SDM guru – dalam hal ini guru bahasa Indonesia – yang ahli dibidangnya dan menguasai penggunaan teknologi pendukung, serta mahalnya peralatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) seperti komputer dekstop, notebook dan koneksi Internet yang masih dirasakan oleh sebagian besar orang yang terlibat pada proses pembelajaran. Kebutuhan penggunaan TIK tentunya disesuaikan oleh jenis sekolah tersebut. Sekolah berjenis teknik khususnya teknik informatika akan sangat tinggi dalam penggunaan ICT dibanding sekolah umum.

    Teknologi komputer dapat berfungsi sebagai teknologi informasi maupun sebagai teknologi komunikasi. Seorang guru dalam konteks ini sejatinya menguasai teknologi informasi dan komunikasi. Istilah Information and Communication Technology (ICT) dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Istilah TIK dalam makalah ini bukan TIK sebagai Mata Pelajaran, melainkan sebagai segala hal yang berkaitan dengan pemanfaatan teknologi komputer dalam kegiatan pembelajaran. Dalam konteks ini, TIK sebagai information and communication technology based learning dan multimedia learning.

    Secara akademis, pengertian teknologi informasi dapat dibedakan dengan teknologi komunikasi, meskipun pada prakteknya teknologi informasi dan komunikasi ibarat dua sisi mata uang. Teknologi informasi memiliki pengertian luas yang meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, pengunaan komputer sebagai alat bantu, manipulasi dan pengolahan informasi. Sementara teknologi komunikasi meliputi segala hal yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat satu ke perangkat yang lainnya. Dalam konteks pembelajaran, TIK meliputi segala hal yang berkaitan dengan pemanfaatan komputer untuk mengolah informasi dan sebagai alat bantu pembelajaran serta sebagai sumber informasi bagi guru dan siswa.

    Terkait dengan pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah, pada umumnya  guru bahasa Indonesia masih berbicara tentang kaidah bahasa dan penggunaan bahasa secara komunikatif belum sampai pada penggunaan bahasa Indonesia di bidang TIK. Maka dari itu, kebutuhan dukungan TIK juga sebagian besar tertuju hanya pada penyediaan informasi global. Bahkan karena itu pula sebagian besar guru bahasa Indonesia beranggapan bahwa mereka tetap bisa berjalan dengan baik tanpa adanya dukungan TIK  yang tinggi dan canggih. Untuk mendukung sistem pembelajaran, mereka merasa masih dapat menyediakannya lewat buku-buku perpustakaan dan koran yang berisi materi-materi tentang bahasa Indonesia. Dalam aktifitas pemberian materi, mereka masih merasa puas dengan menggunakan overhead, papan tulis, dan fotokopi materi.

    3.  Faktor Pendukung yang Diperoleh Guru Bahasa Indonesia dalam Pembelajaran dengan Memanfaatkan TIK

    1)  Dengan  TIK materi pembelajaran yang diberikan guru melalui internet dapat memberikan sambungan (koneksivitas) dan jangkauan yang sangat luas (global).

    2)  Akses informasi tidak dibatasi oleh waktu karena dunia maya yang dihadirkan secara global tidak pernah tidur artinya, kita dapat melakukan pencarian inforasi melalui internet kapan saja selama 24 jam sehari.

    3) Akses informasi melalui internet lebih cepat  dibanding dengan mencari informasi pada halaman-halaman buku-buku di perpustakaan. Kita tinggal mengklik icon tertentu, maka apa yang kita inginkan akan muncul pada layar computer kita.

    4) Akses internet juga dapat menyediakan kegiatan pembelajaran interaktif yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga tertentu yang dapat meningkatkan kemampuan bernalar serta pengetahuan kita.

    5) Kita dapat berdiskusi tentang berbagai hal dengan siswa , teman, jika kita memesuki mailing list atau melakukan chatting.

    6)  Dibandingkan dengan membeli buku atau majalah asli, penelusuran informasi melalui internet jauh lebih murah. Apalagi pada saat ini banyak situs  yang menyediakan jasa informasi secara Cuma-Cuma (gratis) kita tinggal mendoanload atau mencetak file naskah yang kita butuhkan.

    4. Faktor Penghambat yang Dihadapi Guru Bahasa Indonesia dalam Pembelajaran dengan MemanfaatkanTIK

    Penggunaan teknologi untuk memperbaiki pendidikan masih dapat dipertimbangkan. Beberapa keuntungan dari penggunaan teknologi informasi untuk sistim pembelajaran di luar kelas adalah:

    a) penambahan akses untuk belajar,

    b) penambahan sumber informasi yang lebih baik,

    c) penambahan ketersediaan media alternatif untuk mengakomodasi strategi pembelajaran yang beraneka ragam,

    d) motivasi belajar menjadi semakin tinggi, dan, model pembelajaran individu maupun kelompok menjadi lebih potensial (Niemi and Gooler, 1987). Pendapat lain menyebutkan keuntungan potensial penggunaan TIK dalam proses pembelajaran (Massy and Zemsky, 1995) adalah:

    1) penyediaan akses ketersediaan informasi tanpa batas lewat Internet dan onlinedatabase,

    2) membuka batasan waktu dan ruang untuk aktifitas pembelajaran,

    3) menjadikan guru bahasa Indonesia sebagai orang terbaik bagi siswa lewat sistem pengajaran berbasis multimedia,

    4) menyediakan sistem pembelajaran mandiri, menyikapi kepekaan dalam perbedaan cara pembelajaran, dan menyediakan monitoring kemajuan dalam proses pembelajaran secara berkelanjutan,

    5) membuat penyelenggara edukasi menjadi lebih outcomeoriented, dengan menambah kemampuan institusi dalam bereksperimen dan berinovasi,

    6) menambah produktifitas pengetahuan, dan

    7) memberikan siswa untuk dapat mengontrol proses dan keuntungan dalam belajar dengan secara aktif dan mandiri serta mempunyai tanggung jawab secara personal. Penggunaan teknologi yang membuat edukasi menjadi lebih baik tidak akan terwujud tanpa adanya perubahan paradigma dalam edukasi itu sendiri.

    Terkait dengan paradigma pendidikan ternyata di Indonesia masih kebingungan untuk memilih paradigma mana yang paling pas dalam menyelesaikan masalah pembelajaran berbasis TIK. Program dulu baru anggarannya, atau anggarannya dulu baru programnya. Kebingungan ini mungkin karena trauma lama, yakni adanya program yang bagus ternyata tidak didukung oleh adanya anggaran yang tersedia. Atau trauma lama tentang ketersediaan anggaran untuk suatu program ternyata dilatarbelakangi oleh kepentingan dari pihak-pihak nonkependidikan yang memiliki motif-motif untuk mencari keuntungan. Contoh tentang hal ini terlalu banyak untuk disebutkan satu persatu. Program pengadaan alat peraga, pengadaan buku pelajaran satu siswa satu buku, bahkan soal sepatu bagi siswa saja kemudian dengan mudahnya disediakan dananya. Tetapi, anggaran yang tersedia itu tenyata tidak dilengkapi dengan konsep dan perencanaan yang matang. Atau konsep yang ada itu dengan mudahnya tidak dilaksanakan secara konsekuen. Ketentuan judul buku pelajaran harus digunakan di sekolah minimal selama lima tahun pelajaran, sebagai contoh, dengan mudahnya dipungkiri oleh sekolah, karena berbagai alasan seperti adanya perubahan kurikulum. Di Malaysia, penggunaan buku pelajaran menggunakan konsep sepuluh tahunan. Buku pelajaran yang digunakan di sekolah Malaysia digunakan selama sepuluh tahun. Buku pelajaran baru dapat diganti atau direvisi setelah melalui mekanisme sepuluh tahunan itu. Jika memang IT dan Internet memiliki banyak manfaat, tentunya ingin kita gunakan secepatnya. Namun ada beberapa kendala di Indonesia yang menyebabkan IT dan Internet belum dapat digunakan seoptimal mungkin. Kesiapan pemerintah Indonesia masih patut dipertanyakan dalam hal ini.

    Salah satu penyebab utama adalah kurangnya ketersediaan sumber daya manusia, proses transformasi teknologi, infrastruktur telekomunikasi dan perangkat hukumnya yang mengaturnya. apakah infrastruktur hukum yang melandasi operasional pendidikan di Indonesia cukup memadai untuk menampung perkembangan baru berupa penerapan IT untuk pendidikan ini. Sebab perlu diketahui bahwa Cyber Law belum diterapkan pada dunia Hukum di Indonesia.

    Selain itu, masih terdapat kekurangan pada hal pengadaan infrastruktur teknologi telekomunikasi, multimedia dan informasi yang merupakan prasyarat terselenggaranya IT untuk pendidikan sementara penetrasi komputer (PC) di Indonesia masih rendah. Biaya penggunaan jasa telekomunikasi juga masih mahal bahkan jaringan telepon masih belum tersedia di berbagai tempat di Indonesia.. Untuk itu perlu dipikirkan akses ke Internet tanpa melalui komputer pribadi di rumah. Sementara itu tempat akses Internet dapat diperlebar jangkauannya melalui fasilitas di kampus, sekolahan, dan bahkan melalui warung Internet. Hal ini tentunya dihadapkan kembali kepada pihak pemerintah maupun pihak swasta; walaupun pada akhirnya terpulang juga kepada pemerintah. Sebab pemerintahlah yang dapat menciptakan iklim kebijakan dan regulasi yang kondusif bagi investasi swasta di bidang pendidikan. Sehingga guru-guru di Indonesia memiliki kesempatan dalam memanfaatkan TIK. Harapan kita bersama hal ini dapat diatasi sejalan dengan perkembangan telekomunikasi yang semakin canggih dan semakin murah.

    Kendala lain yang dihadapi guru bahasa Indonesia khususnya di lapangan ketika membuat persiapan pembelajaran adalah terbatasnya buku sumber materi pembelajaran. Keberadaan perpustakaan di sekolah pun tidak dapat menjawab permasalahan kurangnya sumber belajar. Keterbatasan anggaran yang ada di sekolah semakin melengkapi alasan kurangnya ketesediaan sumber bahan ajar.

    Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang pesat dewasa ini telah memberikan alternatif pemecahan masalah bagi guru dalam mengatasi kesulitan sumber bahan ajar. Internet menyediakan solusi bagi guru dalam membuat persiapan pembelajaran yang berbasis TIK. Guru tinggal mengakses dan berselancar di internet untuk mencari dan menemukan materi yang dibutuhkan sebagai bahan ajar di kelas.

    Interconnected Network atau lebih populer dengan sebutan internet adalah sebuah sistem komunikasi global yang menghubungkan komputer-komputer dan jaringan-jaringan komputer di seluruh dunia. Internet dapat memberikan informasi yang mendidik, positif dan bermanfaat bagi manusia, namun juga dapat dijadikan lahan kejelekan dan kemaksiatan. Hanya etika, mental dan keimanan masing-masing lah yang menentukan batas-batasnya.

    Dengan adanya internet sejatinya persoalan kurangnya sumber bahan ajar tidak menjadi persoalan lagi bagi guru, karena internet sendiri adalah lautan informasi di belantara dunia maya. Apapun dapat diakses oleh guru asalkan tahu caranya. Internet adalah pintu gerbang informasi yang terbuka sehingga siapapun dapat mengakses, termasuk siswa. Saat ini, sulit sekali ditemukan siswa yang tidak mengenal dan akrab dengan internet terutama mereka yang tinggal di daerah perkotaan.

    Internet  telah merubah pola-pola komunikasi, pola sosial dan tatanan nilai yang selama ini telah mapan di masyarakat, bahkan secara ekstrim telah menafikan batas-batas teritorial antar negara. Informasi bukan lagi milik mereka yang pintar, melainkan milik mereka yang memiliki akses ke media informasi. Jika selama ini guru dipandang sebagai pigur yang serba tahu dan pemegang otoritas tunggal di kelas, maka seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, anggapan tersebut dapat dikoreksi, apalagi jika guru tersebut buta internet. Di jaman sekarang, seorang siswa sah-sah saja lebih pintar dari gurunya karena siswa tersebut sering mengakses internet dan membaca buku ketimbang gurunya.

    Namun demikian, saat ini kesadaran akan pentingnya pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi bagi kepentingan dunia pendidikan sudah merasuki semua stockholder pendidikan. Ketika guru mengajar di kelas multimedia, maka disamping menggunakan aplikasi powerpoint sebagai software presentasi, maka guru dapat memasukkan bahan ajar yang berbasis TIK ke dalam presentasi tersebut. Powerpoint dalam kaitannya dengan bahan ajar yang berbasis TIK tidak lebih hanya sebagai media yang menampilkan bahan ajar tersebut supaya lebih menarik. Sementara bahan ajar itu sendiri bersumber dari internet atau pun dibuat sendiri oleh guru dengan menggunakan software tertentu. Selain itu, pemanfaatan TIK untuk pembelajaran oleh guru masih banyak yang belum bisa menguasai bahkan belum mengenalnya, ini masih terlihat banyak sekali yang perlu dikoreksi dan diperbaiki, salah satunya pada salah satu seminar ada pembicara menanyakan, Apakah sudah memiliki Blog pribadi di Internet, Jawaban dari peserta seminar yang menjawab sudah memiliki Blog hanya 10 orang dari total peserta yang hadir yaitu 600 orang sungguh hal yang jika mengingat fungsi blog bisa digunakan untuk media pembelajaran yang sangat baik tapi nyatanya banyak yang tidak bisa atau belum punya blog tersebut.

    Pendidikan berbasis TIK memang memerlukan anggaran yang amat besar. Tetapi, untuk melaksanakan program penggunaan TIK tersebut, apa yang harus dilakukan pemerintah adalah menyusun naskah akedemis atau pun semacam blue book yang akan digunakan sebagai acuan atau pedoman untuk pelaksanaan program tersebut. Katakanlah bahwa anggaran untuk pelaksanaan program TIK tersebut memang sudah disiapkan sepenuhnya oleh pemerintah.

    1. II. Model Pembelajaran Keterampilan Berbahasa Berbasis TIK

    1. Aspek Keterampilan Berbahasa dalam  Pembelajaran

    Keterampilan berbahasa merupakan aspek kemampuan berbahasa yang menjadi sasaran tumpu para pebelajar bahasa. Oleh sebab itu, dalam dunia pendidikan para pengajar terus berupaya meningkatkan keberhasilan dalam pembelajaran bahasa melalui pencapaian kompetensi berbahasa, yakni menyimak, membaca, berbicara, dan menulis. Bahkan, dalam KTSP untuk SMP dan SMA (MA) dinyatakan bahwa standar kompetensi lulusan adalah sebagai berikut:

    1. Mendengarkan

    Memahami wacana lisan dalam kegiatan penyampaian berita, laporan, saran, berberita, pidato, wawancara, diskusi, seminar, dan pembacaan karya sastra berbentuk puisi, cerita rakyat, drama, cerpen, dan novel

    2. Berbicara

    Menggunakan wacana lisan untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam kegiatan berkenalan, diskusi, bercerita, presentasi hasil penelitian, serta mengomentari pembacaan puisi dan pementasan drama

    3. Membaca

    Menggunakan berbagai jenis membaca untuk memahami wacana tulis teks nonsastra berbentuk grafik, tabel, artikel, tajuk rencana, teks pidato, serta teks sastra berbentuk puisi, hikayat, novel, biografi, puisi kontemporer, karya sastra berbagai angkatan dan sastra Melayu klasik

    4. Menulis

    Menggunakan berbagai jenis wacana tulis untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam bentuk teks narasi, deskripsi, eksposisi, argumentasi, teks pidato, proposal, surat dinas, surat dagang, rangkuman, ringkasan, notulen, laporan, resensi, karya ilmiah, dan berbagai karya sastra berbentuk puisi, cerpen, drama, kritik, dan esei.

    Dengan mencermati SKL tersebut kita dapat berkreasi menggunakan berbagai model pembelajaran sehingga semua butir SKL terpenuhi pada akhir jenjang pendidikan SMA. Butir-butir SKL tersebut mengarah pada penggunaan bahasa. Dengan kata lain, pembelajaran bahasa di sekolah diarahkan untuk keterampilan berbahasa. Pembelajarannya bersifat integratif karena setiap aspek keterampilan berbahasa dikemas dalam matajar Bahasa dan Sastra Indonesia. Pembelajaran bahasa di perguruan tinggi memiliki karakteristik pencapaian hasil belajar tersendiri karena setiap aspek keterampilan berbahasa dikemas dalam bentuk matakuliah. Karakteristik tersebut sesuai dengan kompetensi yang diharapkan dimiliki mahasiswa.untuk dapat mencapai kompetensi tersebut para dosen berupaya menerapkan berbagai model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik matakuliah yang diampunya. Karena setiap aspek keterampilan berbahasa menjadi sosok matakuliah, pembelajaran bahasa di perguruan tinggi (khususnya di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia) berlangsung secara parsial. Setiap matakuliah keterampilan berbahasa berlangsung sesuai dengan karakteristik pencapaian hasil belajarnya. Dengan demikian, produk akhir pembelajaran berupa kemampuan yang dimiliki mahasiswa secara terpisah.

    2. Pemanfaatan TIK dalam Pembelajaran Keterampilan Berbahasa

    Teknologi merupakan produk kreatif manusia untuk memenuhi berbagai keperluan hidup secara efektif. Saat ini teknologi informasi termasuk karya besar manusia untuk menge-jawantahkan segala keinginannya. Internet sebagai bagian dari produk teknologi informasi berkembang pesat dan telah membawa perubahan yang luar biasa pada segala aspek kehidupan manusia. Tak pelak lagi internet telah memengaruhi pola berkomunikasi antarmanusia dalam dunia maya. Melalui internet setiap orang dapat berkomunikasi. Bahkan, dunia pendidikan pun tidak luput untuk memanfaatkannya sehingga kelas maya dapat tercipta.

    Internet menawarkan banyak fasilitas untuk dunia pendidikan. Fasilitas komunikasi yang disediakan internet telah memungkinkan kelas online menjadi kenyataan dengan memper-gunakan halaman web berbasis teks, surat elektronik (e-mail), pertukaran teks dan atau suara secara langsung (Internet Relay Chat), dan berbagai fasilitas multimedia interaktif. Dengan demikian, kegiatan belajar-mengajar dapat dilaksanakan, baik yang bersifat tertunda (delayed, seperti melalui e-mail) maupun secara langsung atau instan (real-time, misalnya melalui IRC dan audio-video conferencing). Pengajar dan peserta didik dapat melakukan komunikasi lintas waktu sehingga pembelajaran dapat dimasimalkan untuk pencapaian hasil belajar. Sejauh ini cukup banyak penelitian dan eksperimen yang berkenaan dengan pemanfaatan komputer dan internet untuk kegiatan belajar bahasa. Penelitian Davis dan Thiede tahun 2000 (Purnawarman, 2002) menunjukkan bahwa asynchronous electronic discourse dalam pelajaran menulis mampu menumbuhkan kesadaran pembelajaran linguistik dan gaya menulis. Chen et al. (Purnawarman, 2002) melakukan penelitian dengan melibatkan mahasiswa di Jurusan Bahasa dan Sastra Asing pada National Cheng Kung University dengan fokus pembelajaran menulis bahasa Inggris melalui internet. Penelitian ini membuktikan bahwa pertukaran pesan melalui internet mampu membantu mahasiswa mengembangkan keterampilan komunikasi baru dan memperkuat kemampuan mereka berbahasa Inggris.

    Penelitian lain dilakukan Susana M. Satillo dari Montclair State University mengenai fungsi wacana dan kompleksitas sintaktis pada komunikasi sinkronis dan asinkronis. Penelitian ini dilakukan untuk menjawab dua pertanyaan, yaitu (1) apakah fungsi wacana yang disajikan pada diskusi sinkronis pembelajar ESL dalam penugasan membaca, baik secara kuantitatif maupun kualitataif berbeda dengan yang dilakukan melalui diskusi asinkronis, dan (2) cara CMC (Computer-Mediated Communication) yang mana yang memperlihatkan keluaran pembelajar yang lebih kompleks secara sintaktis. Hasilnya menunjukkan bahwa secara kuantitatif dan tipe fungsi wacana yang disajikan pada diskusi sinkronis sama dengan tipe modifikasi interaksional yang ditemukan pada percakapan bersemuka. Fungsi wacana pada diskusi asinkronis lebih dipaksakan daripada diskusi sinkronis dan sama pada lingkup evaluasi respon pertanyaan terhadap kelas bahasa yang biasa. Penangguhan diskusi asinkronis memberikan peluang kepada pebelajar untuk memproduksi bahasa yang kompleks secara sintaktis. Selain itu, Flank meneliti kompleksitas sintaktis dalam pengembalian informasi melalui multimedia (http:// http://www.ai.mit.edu/people/jimmylin/papres/ flank), Gouvea meneliti kompleksitas sintaktis bahasa Portugis dan Bahasa Inggris orang Brasil melalui Rapid Serial Visual Presentation (http://www.umd. edu/~gouvea/A Gouvea_WP_RSVP.PDF), dan Leather meneliti gaya mengajar dengan salah satunya menggunakan program komputer. Dengan mencermati berbagai penelitian tersebut, tampaknya dalam pembelajaran keterampilan berbahasa para pengajar bahasa perlu melakukan inovasi pembelajaran dengan memanfaatkan komputer sebagai media pembelajaran. Berikut ini pemakalah sajikan beberapa topik dari aspek keterampilan berbahasa yang dapat dilakukan dengan memanfaatkan TIK dalam model pembelajarannya.

    ASPEK TOPIK
    Menyimak
    1. Menangkap pokok pikiran
    2. Membedakan bunyidistingtif
    3. Mengungkap kembali tuturan
    Membaca
    1. Meningkatkan kecepatan membaca
    2. Menangkap pokok pikiran
    3. Menemukan topic tulisan
    Berbicara
    1. Pemroduksian tuturan
    2. Keefektifan kalimat
    3. Keruntutan gagasan
    4. Ketepatan artikulasi
    Menulis
    1. Menulis jurnal
    2. Menulis artikel
    3. Menulis bersama
    4. Menulis prosa fiksi

    3. Model Pembelajaran Keterampilan Membaca

    Sebuah model pembelajaran yang berbasis TIK dapat dilaksanakan dengan baik apabila segala perangkatnya dapat disiapkan dengan baik pula. Salah satu perangkat yang tidak dapat dihindari adalah kemampuan pengajar mengenal berbagai program yang berkenaan dengan teknologi yang digunakan. Selain itu, peranti keras dan peranti lunak tersedia sehingga pembelajarannya dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. Pemanfaatan TIK untuk pembelajaran keterampilan berbahasa tidak hanya tertuju pada kegiatan belajar-mengajar, tetapi juga dapat dilakukan untuk menghasilkan media pembelajaran. Misalnya, Rosita (2007), mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FPBS UPI, telah mampu mempertanggungjawabkan skripsinya dengan judul “Pengembangan Software Latihan Keterampilan Membaca Cepat sebagai Upaya Meningkatkan Kecepatan Efektif Membaca (KEM) Siswa Sekolah Menengah Pertama”. Produk akhirnya berupa peranti lunak latihan keterampilan membaca yang bersifat audio-visual yang dikemas secara menarik dan interaktif dengan menggunakan program Macromedia Flash 8. Hasil ujicobanya menunjukkan 18 siswa (96,84%) dari 19 siswa menunjukkan respon positif.

    Sebagaimana yang tersaji pada bagian topik untuk setiap aspek keterampilan berbahasa, model pembelajaran keterampilan membaca dapat dilakukan dengan menggunakan perangkat teknologi, baik yang bersifat interaktif maupun yang tidak. Tatarancang untuk model pembelajarannya tidak berbeda dengan model pembelajaran lainnya. Yang membedakannya terletak pada kegiatan belajar-mengajar. Pada tahun 2007 Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FPBS UPI tengah melaksanakan model pembelajaran berbasis TIK dengan fokus pada matakuliah Membaca dan Menulis. Untuk saat ini pemakalah belum bisa mengumumkan hasilnya karena kegiatan perkuliahan baru berakhir belum dilaksanakan proses penilaian hasil berkuliah. Meskipun demikian, untuk memberikan gambaran mengenai model pembelajaran keterampilan berbahasa di bawah ini pemakalah sajikan sebuah model pembelajaran keterampilan Membaca berbasis internet.

    A. Topik         : Membaca Kritis untuk Menulis

    B. Tujuan    : Setelah perkuliahan selesai mahasiswa diharapkan mampu membuat tulisan berdasarkan hasil membaca kritis yang diunduh dari internet.

    C. Kegiatan Pembelajaran :

    Pertemuan 1: Pengantar perkuliahan secara offline untuk menindaklanjuti tugas Membaca.

    Pertemuan 2: Secara online siswa mengunduh berbagai informasi sesuai dengan topik yang dipilihnya dengan produk akhir berupa ringkasan setiap informasi yang diunduh.

    Pertemuan 3: Secara offline siswa melaporkan hasil kegiatan membaca kritis melalui internet. Dalam pertemuan ini setiap mahasiswa mengurutkan informasi secara logis. Setelah itu, dilakukan diskusi untuk menyempurnakan gagasan.

    Pertemuan 4: Secara online siswa mengunduh informasi tambahan untuk menyempurnakan gagasan.

    Pertemuan 5: Secara offline siswa mengembangkan tulisan berdasarkan informasi yang diunduh dari internet.

    D. Organisasi Materi:

    a. Topik tugas akhir

    b. Informasi yang sesuai dengan topik tugas akhir membaca kritis

    c. Kerangka tulisan sesuai dengan topik

    E. Metode Pembelajaran:

    a. Penelusuran situs

    b. Diskusi

    F. Sumber dan Media Pembelajaran: Internet dengan berbagai situsnya

    G. Unsur Penilaian:

    a. Keruntutan gagasan

    b. Ketepatan pengambilan informasi

    c. Kelengkapan informasi Model pembelajaran keterampilan membaca tersebut tidak hanya untuk produk akhir berupa tulisan, tetapi juga dapat dilakukan untuk meningkatkan keterampilan berbicara dengan menggunakan informasi yang diunduh dari internet. Melalui kegiatan seperti itu diharapkan tulisan atau pembicaraan lebih berkualitas.

    4. Model Pembelajaran Menulis melalui Internet

    Selain keterampilan membaca, TIK dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan keterampilan mahasiswa dalam menulis. Kegiatan tersebut telah dilakukan oleh Pupung Purnawarman, dosen Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni UPI, dalam matakuliah Writing IV. Model pembelajaran yang dilakukannya secara offline dan online dengan jumlah kegiatan online sebanyak 10 pertemuan. Pertemuan online mempergunakan mailing list, fasilitas yang disediakan oleh yahoo groups dengan dimoderatori oleh dosen.

    Langkah-langkah pembelajarannya dilaksanakan sebagai berikut.

    1) Siswa ditugasi untuk menjelajahi internet dan berbagai situs yang tersedia sebanyak mungkin untuk mencari, menemukan, dan mengunduh artikel berita dan materi kuliah yang sesuai dengan topik dan tugas yang diberikan.

    2) Siswa membuat draf tulisan awal pada pertemuan offline lalu mengirimkannya ke milis sehingga semua anggota milis dapat membaca tulisan masing-masing.

    3) Untuk setiap tugas, siswa diminta memberikan komentar terhadap tulisan empat siswa lain.

    4) Siswa diminta memperbaiki tulisan awal dan membahas tulisan yang telah direvisi pada pertemuan offline.

    5) Siswa mengirimkan esai ke milis Writing IV dan memberikan komentar terhadap komentar yang mereka terima dari mahasiswa lain.

    6) siswa mendiskusikan komentar pada pertemuan offline.

    7) siswa diminta untuk membuat tulisan akhir.

    Dengan mengikuti beberapa tahapan tersebut, para siswa mengalami secara langsung pembelajaran kolaboratif, penilaian oleh mitra sebaya, dan pemanfaatan internet. Kegiatan-kegiatan tersebut memberikan pajanan pluralisme gagasan dan sudut pandang sehingga nilai-nilai toleransi dan keterampilan berpikir kritis dapat dikembangkan.

    5. Solusi yang Bisa Ditawarkan dalam Mengatasi Problematika Pembelajaran Bahasa Indonesia dan  Perkembangan TIK

    Untuk membekali terjadinya pergeseran orientasi pendidikan di era global dalam mewujudkan kualitas sumber daya manusia yang unggul, diperlukan strategi pengembangan pendidikan, antara lain:

    1.  Mengedepankan model perencanaan pendidikan (partisipatif) yang berdasarkan pada need assessment dan karakteristik masyarakat. Partisipasi masyarakat dalam perencanaan pendidikan merupakan tuntutan yang harus dipenuhi.

    2.  Peran pemerintah bukan sebagai penggerak, penentu dan penguasa dalam pendidikan, namun pemerintah hendaknya berperan sebagai katalisator, fasilitator dan pemberdaya masyarakat.

    3.  Penguatan fokus pendidikan, yaitu fokus pendidikan diarahkan pada pemenuhan kebutuhan masyarakat, kebutuhan stakeholders, kebutuhan pasar dan tuntutan teman saing.

    4.  Pemanfaatan sumber luar (out sourcing), memanfaatkan berbagai potensi sumber daya (belajar) yang ada, lembaga-lembaga pendidikan yang ada, pranata-pranata kemasyarakatan, perusahaan/industri, dan lembaga lain yang sangat peduli pada pendidikan.

    5.  Memperkuat kolaborasi dan jaringan kemitraan dengan berbagai pihak, baik dari instansi pemerintah mapun non pemerintah, bahkan baik dari lembaga di dalam negeri maupun dari luar negeri.

    6.    Menciptakan soft image pada masyarakat sebagai masyarakat yang gemar belajar, sebagai masyarakat belajar seumur hidup.

    7.   Pemanfaatan teknologi informasi, yaitu: lembaga-lembaga pendidikan baik jalur pendidikan formal, informal maupun jalur non formal dapat memanfaatkan teknologi informasi dalam mengakses informasi dalam mengembangkan potensi diri dan lingkungannya (misal; penggunaan internet, multi media pembelajaran, sistem informasi terpadu, dsb).

    PENUTUP

    Pendidikan tidak bisa dilepaskan dari perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi. TIK bukan lagi mejadi bahan asing dalam dunia pendidikan tetapi sudah menjadi penting dan sangat mendukung dalam dunia pendidikan. Salah satu bukti pentingnya TIK adalah untuk pemerataan pendidikan dengan kondisi geografis Indonesia yang luas sangat diperlukan TIK. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin pesat telah merambah berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk menyentuh dunia pendidikan. Karena itu, sekolah dan guru tidak dapat mengelak dari trend ini hanya karena persoalan anggaran atau pun persoalan keterbatasan akses dan wawasan.

    Guru sejatinya memberi contoh kepada siswa bahwa teknologi merupakan suatu keniscayaan yang sedang dihadapi, sehingga penguasaan teknologi adalah sesuatu yang harus direbut oleh siswa. Pemanfaatan teknologi infomasi dan komunikasi dalam kegiatan pembelajaran perlu diusahakan oleh guru sesuai dengan kemampuan masing-masing sekolah dan guru bersangkutan. Pelatihan internet dan aplikasi tertentu seperti microsoft Office khususnya powerpoint atau aplikasi membuat animasi penting dilakukan untuk para guru di setiap sekolah agar para guru mampu melaksanakan kegiatan pembelajaran berbasis TIK. Pelatihan tersebut baiknya diadakan di setiap sekolah dengan melibatkan seluruh guru mata pelajaran sehingga akan ada pemerataan pemahaman tentang materi pelatihan yang diberikan.

    Bahwa terdapat tantangan-tantangan seperti keterbatasan anggaran untuk melengkapi infrastruktur yang mendukung pada penguasaan teknologi informasi dan komunikasi ini adalah fakta, namun satu hal yang perlu dilakukan adalah membuat satu langkah awal yang mengarah pada penguasaan teknologi baik oleh guru maupun oleh siswa. Satu langkah awal selalu diikuti oleh langkah berikutnya dan terkadang oleh suatu lompatan besar. Karena itu, sekolah dan guru harus memprioritaskan penguasaan dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam program prioritas. Seluruh sumber daya yang ada secara sinergis diarahkan pada pencapaian program ini sehingga diharapkan sebagaimana target pemerintah bahwa tahun 2009, 75% sekolah menengah telah memiliki akses internet dan menerapkan TIK dalam kegiatan pembelajaran di sekolah.

    Daftar Pustaka

    Alwi, Hasan, Dendy Sugono, dan A. Rozak Zaidan. (Ed.). 2000. Bahasa Indonesia dalam Era Globalisasi. Jakarta: Pusat Bahasa

    Arifin, I. 2000. Profesionalisme Guru: Analisis Wacana Reformasi Pendidikan dalam Era Globalisasi. Simposium Nasional Pendidikan di Universitas Muhammadiyah Malang, 25-26 Juli 2001

    Efendi, Anwar (Ed). 2008. Bahasa dan Sastra dalam Berbagai Perspektif. Yogyakarta: Tiara Wacana

    Harina Yuhetty dan Hardjito, 2004, Edukasi Net Pembelajaran Berbasis Internet : Tantangan dan Peluangnya dalam Mozaik Teknologi Pendidikan (Dewi salma dan Eveline Siregar), Kencana Media Group dan Universitas Negeri Jakarta.

    Idris, Naswil, 2001, “Pengembangan dan Peranan Sumber Daya Manusia di Era Teknologi Informasi”, Semarang

    Moeliono, Anton. 2000. “Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia dalam Era Globalisasi” dalam Hasan Alwi, Dendy Sugono, dan A. Rozak Zaidan (Ed.). Jakarta: Pusat Bahasa

    Munsyi, Alif Danya. 2005. Bahasa Menunjukkan Bangsa. Jakarta: KPG

    Pateda, Mansoer. 1991. “Pengaruh Arus Globalisasi terhadap Pembinaan Bahasa di Indonesia”. Makalah Munas V dan Semloknas I HPBI: Padang: Panitia Penyelenggara

    Rakhmat, J.1999 . Psikologi Komunikasi. Bandung: Rosdakarya

    Schiffrin, Deborah. 2007. Ancangan Kajian Wacana (terjemahan dari: Approaches To Discourse). Yogyakarta: Pustaka Pelajar

    Semiawan, C.R. 1991. Mencari Strategi Pengembangan Pendidikan Nasional Menjelang Abad XXI. Jakarta: Grasindo

    Thomas, Linda dan Shan Wareing. 2007. Bahasa, Masyarakat dan Kekuasaan (Terj. dari: Language, Society and Power). Yogyakarta: Pustaka Pelajar

    W. Jorgensen, Marianne dan Louise J. Phillips. 2007. Analisis WacanaTeori dan Metode (terjemahan dari: Discourse Analisys). Yogyakarta: Pustaka Pelajar

    Dipublikasi di ICT Bahasa Indonesia | Meninggalkan komentar

    Pembelajaran Bahasa Berbasis Komputer

    Dipublikasi di ICT Bahasa Indonesia, Uncategorized | Meninggalkan komentar

    Computer Assited Language Learning

    Dipublikasi di ICT Bahasa Indonesia, Uncategorized | Meninggalkan komentar

    Namaku Eha Yaniarti, lahir di Rangkasbitung, 29 Januari 1971. Alamat rumahku, di Jl. Raya Pandeglang no.2 Tajur Indah Rangkasbitung, pekerjaanku, pahlawan tanpa tanda jasa he.he. beralamat di Jl. MA Salmun no.6 Rangkasbitung. Pesanku ga muluk-muluk, Marilah berlomba-lomba dalam kebaikan.

    Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

    PEMBELAJARAN BAHASA DENGAN MEMANFAATKAN MEDIA BERBASIS TIK DI SMP

    PEMBELAJARAN BAHASA DENGAN MEMANFAATKAN MEDIA BERBASIS TIK

    DI SMP NEGERI 4 RANGKASBITUNG

    Oleh: EHA YANIARTI

    PENDAHULUAN

    A. LATAR BELAKANG

    Seiring dengan perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK),berkembang pula berbagai peluang baru yang memanfaatkan dunia internet. Salah satunya diantaranya adalah pembelajaran melalui media internet. Tidak sedikit memang situs yang memuat berbagai topik permasalahan yang berkaitan dengan pembelajaran siswa termasuk siswa di SMP Negeri 4 Rangkasbitung. Karena media internet merupakan dunia yang relatif baru dan mulai digemari oleh berbagai kalangan, dari mulai pakar ilmu pengetahuan, anak-anak, eksekutif, dosen, guru pelajar. Media internet merupakan ruang atau dunia yang dianggap mampu menyediakan berbagai informasi dan hiburan yang diperlukan oleh berbagai kalangan.

    Pemanfaatan media dalam pembelajaran keterampilan berbahasa berbasis TIK sangat diperlukan bagi pengembangan wawasan serta pencarian informasi sehingga siswa akan lebih semanagat karena dengan inovasi baru siswa dapat mengubah pola pikir yang kaku menjadi terbuka. Dengan demikian media merupakan alat yang harus ada di sekolah.

    Dikaitkan dengan perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi, aspek keterampilan berbahasa menjadi komponem yang menarik untuk dikaji. Dengan memanfaatkan media pembelajaran terhadap keterampilan bahasa berbasis TIK maka dituntut adanya perubahan sehingga dalam Proses Belajar Mengajar di kelas khususnya di SMP Negeri 4 Rangkasbitung, guru dan siswa sama-sama menikmati kelebihan belajar dengan menggunakan TIK.

    Kit Lay Bourne ( 1985 : 82 ) menyatakan bahwa “ penggunaan media tidak harus membawa bungkusan berita-berita semua, siswa cukup dapat mengawasi suatu berita.” Dari pendapat tersebut dapat dihubungkan bahwa penyampaian materi pelajaran dengan cara komunikasi masih dirasakan adanya penyimpangan pemahaman oleh siswa. Masalahnya adalah bahwa siswa terlalu banyak menerima sesuatu ilmu dengan verbalisme. Apalagi dalam proses belajar mengajar yang tidak menggunakan media dimana kondisi siswa tidak siap, akan memperbesar pekuang terjadinya verbalisme.

    Media yang difungsikan sebagai sumber belajar bila dilihat dari pengertian harfiahnya juga terdapat manusia didalamnya, benda, ataupun segala sesuatu yang memungkinkan untuk anak didik memperoleh informasi dan pengetahuan yang berguna bagi anak didik dalam pembelajaran, dan bagaimana dengan adanya media berbasis TIK tersebut, khususnya menggunakan presntasi power point dimana anak didik mempunyai keinginan untuk maju, dan juga mempunyai kreatifitas yang tinggi dan memuaskan dalam perkembangan mereka di kehidupan kelak.

    Sasaran penggunaan media adalah agar anak didik mampu mencipatakan sesuatu yang baru dan mampu memanfaatkan sesuatu yang telah ada untuk dipergunakan dengan bentuk dan variasi lain yang berguna dalam kehidupannya,. Dengan demikian mereka dengan mudah mengerti dan mamahami materi pelajaran yang disampaikan oleh guru kepada mereka.

    Dari pandangan yang ada di atas dapat dikatakan bahwa media merupakan alat yang memungkinakan anak mudah untuk mengerti dan memahami sesuatu dengan mudah dan dapat untuk mengingatnya dalam waktu yang lama dibangdingkan dengan penyampaian materi pelajaran dengan cara tatap muka dan ceramah tanpa alat bantuan.

    Dalam makalah ini penulis mencoba memberikan peluang-peluang bagaimamana memanfaatkan media pembelajaran keterampilan berbahasa berbasis TIK khususnya di SMP Negeri 4 Rangkasbitung.

    B. RUMUSAN MASALAH

    Berdasarkan paparan pada latar belakang di atas, maka rumusan masalah pada makalah ini adalah :

    a. Bagaimanakah siswa SMP Negeri 4 Rangkasbitung memanfaatkan media pembelajaran keterampilan berbahasa dengan berbasis TIK?

    b. Apakah ada kelebihan belajar dengan memanfaatkan media pembelajaran keterampilan berbahasa berbasis TIK di SMP Negeri 4 Rangkasbitung?

    c. Apakah ada kelemahan belajar dengan memanfaatkan media pembelajaran keterampilan berbahasa berbasis TIK di SMP Negeri 4 Rangkasbitung?

    C. PEMBAHASAN

    1. Pengertian Media

    Media merupakan alat yang harus ada apabila kita ingin memudahkan sesuatu dalam pekerjaan. Media merupakan alat bantu yang dapat memudahkan pekerjaan. Setiap orang pasti ingin pekerjaan yang dibuatnya dapat diselesaikan dengan baik dan dengan hasil yang memuaskan. Kata media itu sendiri berasal dari bahasa latin yang merupakan bentuk jamak dari kata “ medium “ yang berarti “ pengantar atau perantara “, dengna demikian dapat diartikan bahwa media merupakan wahana penyalur informasi belajar atau penyalur pesan.

    2. Pemanfaatan TIK dalam Pembelajaran Keterampilan Berbahasa di SMP Negeri 4 Rangkasbitung

    Untuk memenuhi berbagai keperluan, guru dan siswa memanfaatkan media komputer. Karena saat ini teknologi informasi membawa perkembangan yang sangat menguntungkan untuk pembelajaran di SMP. Internet sebagai bagian dari produk teknologi informasi berkembang pesat dan telah membawa perubahan yang luar biasa pada segala aspek, termasuk pada siswa yang berada di SMP Negeri 4 Rangkasbitung. Tak pelak lagi internet telah memengaruhi pola berkomunikasi antarsiswa dalam dunia maya. Melalui internet setiap siswa dapat berkomunikasi. Bahkan, dunia pendidikan pun tidak luput untuk memanfaatkannya sehingga kelas maya dapat tercipta. Internet misalnya adalah salah satu alternatif yang menjadi pilihan guru dan siswa di SMP Negeri 4 Rangkasbitung. Siswa biasanya di bawa ke laboratorium komputer untuk membuka Web ( World Wide Web ) untuk mencari materi yang sedang diberikan oleh guru untuk siswa. Fasilitas komunikasi yang disediakan internet telah memungkinkan kelas online menjadi kenyataan dengan mempergunakan halaman web berbasis teks, surat elektronik (e-mail), pertukaran teks dan atau suara secara langsung (Internet Relay Chat), dan berbagai fasilitas multimedia interaktif. Dengan demikian, kegiatan belajar-mengajar dapat dilaksanakan, baik yang bersifat tertunda (delayed, seperti melalui e-mail) maupun secara langsung atau instan (real-time, misalnya melalui IRC dan audio-video conferencing). Pengajar dan peserta didik dapat melakukan komunikasi lintas waktu sehingga pembelajaran dapat dimasimalkan untuk pencapaian hasil belajar. Sejauh ini cukup banyak penelitian dan eksperimen yang berkenaan dengan pemanfaatan komputer dan internet untuk kegiatan belajar bahasa.

    3. Keterampilan Berbahasa dalam Pembelajaran Berbasis TIK di SMP Negeri 4 Rangkasbitung

    Tanggung jawab perkembangan bahasa bukan hanya dipundak guru bahasa Indonesia khususnya dalam pembelajaran, namun terletak ditangan pemakai bahasa itu sendiri. Oleh sebab itu keterampilan berbahasa juga merupakan aspek kemampuan berbahasa yang menjadi sasaran tumpu para pelajar bahasa. Untuk meningkatkan keberhasilan dalam pembelajaran keterampilan berbahasa berbasis TIK di SMP Negeri 4 Rangkasbitung adalah hal-hal yang harus diperhatikan yakni menyimak, membaca, berbicara, dan menulis.

    a. Mendengarkan

    Memahami wacana lisan dalam kegiatan penyampaian berita, laporan, saran, berpidato, wawancara, diskusi, seminar, dan pembacaan karaya sastra berbantuk puisi, cerita rakyat, drama, cerpen, dan novel.

    b. Berbicara

    Menggunakan wacana lisan untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam kegiatan berkenalan, diskusi, bercerita, persentasi hasil penelitian, serta mengomentari pembacaan puisi dan ppementasan drama.

    c. Membaca

    Menggunakan berbagai jenis membaca untuk memahami wacana tulis teks nonsastra berbentuk grafik, table, artikel, tajuk rencana, teks pidato, serta teks sastra berbentuk puisi, hikayat, novel, biografi, puisi kontemporer, karya sastra berbagai angkatan.

    d. Menulis

    Menggunakan berbagai jenis wacana tulis untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam berntuk teks narasi, deskripsi, eksposisi, argumentasi, teks pidato, proposal, surat dinas, ringkasan, notulen, resensi, karya ilmiah, dan berbagai karya sastra berbentuk puisi, cerpen, drama, kritik, dan esei.

    4. Media Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi dan Penggunaannya di SMP Negeri 4 Rngkasbitung

    Penggunaan media pembelajaran yang berbasis TIK merupakan hal yang tidak mudah. Dalam menggunakan media tersebut harus memperhatikan beberapa teknik agar media yang dipergunakan itu dapat dimanfaatkan dengan maksimal dan tidak menyimpang dari tujuan media tersebut, dalam hal ini media yang digunakan adalah Komputer dan LCD Proyektor. Arief S. Sadiman ( 1996 : 83 ) mengatakan bahwa :

    Ditinjau dari kesiapan pengadaannya, media dikelompokkan dalam dua jenis, yaitu media jadi karena merupakan komoditi perdagangan yang terdapat di pasaran luas dalam keadaan siap pakai ( media by utilization ) dan media rancangan yang perlu dirancang dan dipersiapkan secara khusus untuk maksud dan tujuan pembelajaran tertentu.

    Dari pernyataan tersebut di atas dapat dikategorikan bahwa media Komputer dan LCD Proyektor meupakan media rancangan yang mana didalam penggunaannya sangat diperlukan perancangan khusus dan didesain sedemikian rupa agar dapat dimanfaatkan. Perangkat keras ( hard ware ) yang difungsikan dalam menginspirasikan media tersebut adalah menggunakan satu unit computer lengkap yang terkoneksikan dengan LCD Proyektor. Dengan demikian media ini hendaknya menarik perhatian siswa dalam proses pembelajaran khususnya pembelajaran keterampilan berbahasa berbasis TIK sehingga siswa SMP Negeri 4 Rangkasbitung menjadi lebih tertarik dengan pembelajaran dengan menggunakan media computer.

    5. Komputer Sebagai Salah Satu Media Pembelajaran yang digunakan di SMP Negeri 4 Rangkasbitung

    Aplikasi komputer dalam bidang pembelajaran memungkinkan berlangsungnya proses belajar secara individual (individual learning). Pemakai komputer atau user dapat melakukan interaksi langsung dengan sumber informasi. Perkembangan teknologi komputer jaringan (computer network/Internert) saat ini telah memungkinkan pemakainya melakukan interaksi dalam memperoleh pengetahuan dan informasi yang diinginkan. Berbagai bentuk interaksi pembelajaran dapat berlangsung dengan tersedianya medium komputer. Termasuk di SMP Negeri 4 Rangkasbitung memanfaatkan medium ini sebagai sarana interaksi. Pemanfaatan ini didasarkan pada kemampuan yang dimiliki oleh komputer dalam memberikan umpan balik (feedback) yang segera kepada pemakainya.

    Dengan demikian kegiatan belajar mengajar dapat dilaksanakan baik bersifat tertunda (delayed, seperti melalui e-mail) maupun secara langsung atau instan (real-time, misalnya melalui IRC dan audio-video conferencing). Pengajar dan peserta didik dapat melakukan komunikasi lintas waktu sehingga pembelajaran dapat dimaksimalkan untuk pencapaian hasil belajar. Sejauh ini cukup banyak penelitian dan eksperimen yang berkenaan dengan pemanfaatan komputer dan internet untuk kegiatan belajar bahasa.

    6. Kelebihan Pembelajaran Keterampilan Bahasa Berbasis TIK di SMP Negeri 4 Rangkasbitung

    Heinich dkk. (1986) mengemukakan sejumlah kelebihan dan juga kelemahan yang ada pada medium komputer. Aplikasi komputer sebagai alat bantu proses belajar memberikan beberapa keuntungan. Komputer memungkinkan siswa belajar sesuai dengan kemampuan dan kecepatannya dalam memahami pengetahuan dan informasi yang ditayangkan. Penggunaan komputer dalam proses belajar membuat siswa dapat melakukan kontrol terhadap aktivitas belajarnya. Penggunaan komputer dalam lembaga pendidikan jarak jauh memberikan keleluasaan terhadap siswa untuk menentukan kecepatan belajar dan memilih urutan kegiatan belajar sesuai dengan kebutuhan. Kemampuan komputer untuk menayangkan kembali informasi yang diperlukan oleh pemakainya, yang diistilahkan dengan “kesabaran komputer”, dapat membantu siswa yang memiliki kecepatan belajar lambat. Dengan kata lain, komputer dapat menciptakan iklim belajar yang efektif bagi siswa yang lambat (slow learner), tetapi juga dapat memacu efektivitas belajar bagi siswa yang lebih cepat (fast learner).Disamping itu, komputer dapat diprogram agar mampu memberikan umpan balik terhadap hasil belajar dan memberikan pengukuhan (reinforcement) terhadap prestasi belajar siswa. Dengan kemampuan komputer untuk merekam hasil belajar pemakainya (record keeping), komputer dapat diprogram untuk memeriksa dan memberikan skor hasil belajar secara otomatis. Komputer juga dapat dirancang agar dapat memberikan preskripsi atau saran bagi siswa untuk melakukan kegiatan belajar tertentu. Kemampuan ini mengakibatkan komputer dapat dijadikan sebagai sarana untuk pembelajaran yang bersifat individual (individual learning). Kelebihan komputer yang lain adalah kemampuan dalam mengintegrasikan komponen warna, musik dan animasi grafik (graphic animation). Hal ini menyebabkan komputer mampu menyampaikan informasi dan pengetahuan dengan tingkat realisme yang tinggi. Hal ini menyebabkan program komputer sering dijadikan sebagai sarana untuk melakukan kegiatan belajar yang bersifat simulasi. Lebih jauh, kapasitas memori yang dimiliki oleh komputer memungkinkan penggunanya menayangkan kembali hasil belajar yang telah dicapai sebelumnya. Hasil belajar sebelumnya ini dapat digunakan oleh siswa sebagai dasar pertimbangan untuk melakukan kegiatan belajar selanjutnya.

    Keuntungan lain dari penggunaan komputer dalam proses belajar dapat meningkatkan hasil belajar dengan penggunaan waktu dan biaya yang relatif kecil. Contoh yang tepat untuk ini adalah program komputer simulasi untuk melakukan percobaan pada mata kuliah sains dan teknologi. Penggunaan program simulasi dapat mengurangi biaya bahan dan peralatan untuk melakukan percobaan. (Benny A. Pribadi dan Tita Rosita, 2002:11-12)

    7. Kelemahan Pembelajaran Keterampilan Berbahasa Berbasis TIK di SMP Negeri 4 Rangkasbitung

    Selanjutnya Benny dan Tita (2000) memberi penjelasan. Disamping memiliki sejumlah kelebihan, komputer sebagai sarana komunikasi interaktif juga memiliki beberapa kelemahan. Kelemahan pertama adalah tingginya biaya pengadaan dan pengembangan program komputer, terutama yang dirancang khusus untuk maksud pembelajaran. Disamping itu, pengadaan, pemeliharaan, dan perawatan komputer yang meliputi perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software) memerlukan biaya yang relatif tinggi. Oleh karena itu pertimbangan biaya dan manfaat (cost benefit analysis) perlu dilakukan sebelum memutuskan untuk menggunakan komputer untuk keperluan pendidikan. Masalah lain adalah compatability dan incompability antara hardware dan software. Penggunaan sebuah program komputer biasanya memerlukan perangkat keras dengan spesifikasi yang sesuai. Perangkat lunak sebuah komputer seringkali tidak dapat digunakan pada komputer yang spesifikasinya tidak sama. Disamping kedua hal di atas, merancang dan memproduksi program pembelajaran yang berbasis komputer (computer based instruction) merupakan pekerjaan yang tidak mudah. Memproduksi program komputer merupakan kegiatan intensif yang memerlukan waktu banyak dan juga keahlian khusus. Disamping itu juga siswa SMP Negeri 4 Rangkasbitung harus mengeluarkan biaya dua kalilipat untuk mencukupi kebutuhan tersebut.

    PENUTUP

    Pendidikan tidak bisa dilepaskan dari perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi. TIK bukan lagi mejadi bahan asing dalam dunia pendidikan tetapi sudah menjadi penting dan sangat mendukung dalam dunia pendidikan. Salah satu bukti pentingnya TIK adalah untuk pemerataan pendidikan dengan kondisi geografis Indonesia yang luas sangat diperlukan TIK. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin pesat telah merambah berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk menyentuh dunia pendidikan. Karena itu, sekolah dan guru tidak dapat mengelak dari trend ini hanya karena persoalan anggaran atau pun persoalan keterbatasan akses dan wawasan.

    Guru sejatinya memberi contoh kepada siswa bahwa teknologi merupakan suatu keniscayaan yang sedang dihadapi, sehingga penguasaan teknologi adalah sesuatu yang harus direbut oleh siswa. Pemanfaatan teknologi infomasi dan komunikasi dalam kegiatan pembelajaran perlu diusahakan oleh guru sesuai dengan kemampuan masing-masing sekolah dan guru bersangkutan. Pelatihan internet dan aplikasi tertentu seperti microsoft Office khususnya powerpoint atau aplikasi membuat animasi penting dilakukan untuk para guru di setiap sekolah agar para guru mampu melaksanakan kegiatan pembelajaran berbasis TIK. Pelatihan tersebut baiknya diadakan di setiap sekolah dengan melibatkan seluruh guru mata pelajaran sehingga akan ada pemerataan pemahaman tentang materi pelatihan yang diberikan.

    Bahwa terdapat tantangan-tantangan seperti keterbatasan anggaran untuk melengkapi infrastruktur yang mendukung pada penguasaan teknologi informasi dan komunikasi ini adalah fakta, namun satu hal yang perlu dilakukan adalah membuat satu langkah awal yang mengarah pada penguasaan teknologi baik oleh guru maupun oleh siswa. Satu langkah awal selalu diikuti oleh langkah berikutnya dan terkadang oleh suatu lompatan besar. Karena itu, sekolah dan guru harus memprioritaskan penguasaan dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam program prioritas. Seluruh sumber daya yang ada secara sinergis diarahkan pada pencapaian program ini sehingga diharapkan sebagaimana target pemerintah bahwa tahun 2009, 75% sekolah menengah telah memiliki akses internet dan menerapkan TIK dalam kegiatan pembelajaran di sekolah.

    Daftar Pustaka

    Alwi, Hasan, Dendy Sugono, dan A. Rozak Zaidan. (Ed.). 2000. Bahasa Indonesia dalam Era Globalisasi. Jakarta: Pusat Bahasa

    Arifin, I. 2000. Profesionalisme Guru: Analisis Wacana Reformasi Pendidikan dalam Era Globalisasi. Simposium Nasional Pendidikan di Universitas Muhammadiyah Malang, 25-26 Juli 2001

    Brown, H.D. 1994. Principle of Language Learning and Teaching. Third Edition. Englewood Cliffs: Prentice Hall Regents

    Efendi, Anwar (Ed). 2008. Bahasa dan Sastra dalam Berbagai Perspektif. Yogyakarta: Tiara Wacana

    Fauzi, Harry D. 2007. Strategi Mencari Informasi Melalui Internet. Bacaan Populer Bagi Siswa SLTP. Bandung: Armico

    Harina Yuhetty dan Hardjito, 2004, edukasi net pembelajaran berbasis internet : tantangan dan peluangnya dalam Mozaik Teknologi Pendidikan (Dewi salma dan Eveline Siregar), Kencana Media Group dan Universitas Negeri Jakarta.

    http://susandi.wordpress.com/2009/11/21/problematika-pendidikan-bahasa-indonesia/

    Idris, Naswil, 2001, “Pengembangan dan Peranan Sumber Daya Manusia di Era Teknologi Informasi”, Semarang

    Moeliono, Anton. 2000. “Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia dalam Era Globalisasi” dalam Hasan Alwi, Dendy Sugono, dan A. Rozak Zaidan (Ed.). Jakarta: Pusat Bahasa

    Munsyi, Alif Danya. 2005. Bahasa Menunjukkan Bangsa. Jakarta: KPG

    Pateda, Mansoer. 1991. “Pengaruh Arus Globalisasi terhadap Pembinaan Bahasa di Indonesia”. Makalah Munas V dan Semloknas I HPBI: Padang: Panitia Penyelenggara

    Rakhmat, J.1999 . Psikologi Komunikasi. Bandung: Rosdakarya

    Schiffrin, Deborah. 2007. Ancangan Kajian Wacana (terjemahan dari: Approaches ToDiscourse). Yogyakarta: Pustaka Pelajar

    Dipublikasi di ICT Bahasa Indonesia, Uncategorized | Meninggalkan komentar

    PENGARUH POLA ASUH TERHADAP PERKEMBANGAN BAHASA

    PENGARUH POLA ASUH TERHADAP PERKEMBANGAN BAHASA

    ANAK 0 – 4 TAHUN

    Oleh :

    Eha Yaniarti

    NIM.0908056005

    Program pasca sarjana

    UNIVERSITAS MUHAMMDIYAH PROF. DR. HAMKA

    Jalan Gandaria Raya – JAKARTA

    BAB I

    PENDAHULUAN

    1. A. Latar Belakang Masalah

    Penguasaan sebuah bahasa oleh seorang anak dimulai dengan pemerolehan bahasa pertama yang seringkali disebut bahasa ibu (B1). Pemerolehan bahasa merupakan sebuah proses yang sangat panjang sejak anak belum mengenal sebuah bahasa ibu diperoleh,  maka pada usia tertentu 0-4 tahun dimana anak selalu merekam ucapan-ucapan yang ada disekitarnya, tidak mustahil akan berpengaruh kepada perkembangan bahasa anak.

    Penulis berupaya menyajikan pola asuh orangtua terhadap anak. Penulis percaya bahwa pola asuh yang kreatif, inovatif, seimbang, dan sesuai dengan tahap perkembangan anak akan menciptakan interaksi dan situasi komunikasi yang memberi kontribusi positif terhadap keterampilan berbahasa anak. Dengan kata lain, kealamian pemerolehan bahasa tidak dibiarkan mengalir begitu saja, tetapi direkayasa sedemikian rupa agar anak  mendapat stimulus posistif sebanyak dan sevariatif mungkin. Dengan demikian, diharapkan anak tidak akan mengalami kesulitan ketika memasuki tahap pembelajaran bahasa untuk kemudian menjadi sosok yang terampil berbahasa.

    Bagi anak orangtua merupakan tokoh identifikasi. Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan jika mereka meniru hal-hal yang dilakukan orangtua (Fachrozi dan Diem, 2005:147). Anak serta merta akan meniru apapun yang ia tangkap di keluarga dan lingkungannya  sebagai bahan pengetahuannya yang baru terlepas apa yang didapatkanya itu baik atau tidak baik.  Citraan orangtua menjadi dasar pemahaman baru yang diperolehnya sebagai khasanah pengetahuannya artinya apa saja yang dilakukan orangtuanya dianggap baik menurutnya. Apapun bahasa yang diperoleh anak dari orangtua dan lingkungannya tersimpan dibenaknya sebagai konsep perolehan bahasa anak itu sendiri. Hal ini menunjukan bahwa keberadaan orangtua dalam berbahasa di dalam keluarga (bahasa ibu) sangat dicermati anak untuk ditirukan. Anak bersifat meniru dari semua konsep yang ada di lingkungannya. (Brown dalam Indrawati dan Oktariana 2005:24) mengemukakan  bahwa posisi ekstern behavioristik adalah anak lahir kedunia seperti kertas putih, bersih. Pernyataan itu memberikan penjelasan nyata  bahwa lingkungan dalam hal ini keluarga terutama orangtua dalam pemberian bahasa yang kurang baik khususnya tuturan lisan kepada anak akan menjadi bahan negatif yang akan disambut oleh anak sebagai pemerolehan bahasa pertama (B1) yang menjadi modal awal bagi seorang anak untuk menyongsong kehadiran pemerolehan bahasa kedua.

    Pendidikan pada anak diawali di dalam keluarga sejak seorang anak dilahirkan.Seorang anak mulai berkomunikasi dengan orang yang paling dekat dengannya yakni ibu, ayah dan anggota keluarga lainnya yang diekspresikan melalui tangisan,senyum, atau gerak-gerik.Ekspresi tersebut merupakan tanda bahwa ia membutuhkan sesuatu sesuai dengan keinginannya. Orang yang paling peka memahami bahasa anak adalah ibu.Kepekaan ibu itu muncul pada saat ia menyusui atau meninabobokan anaknya. Di saat inilah bunyi-bunyi bahasa dihasilkan dan diwujudkan dalam kalimat satu kata,dua kata, atau lebih dari tiga kata.Komunikasi yang dibangun oleh orang tua sangat mendukung perkembangan kemampuan berbicara anak. Hal ini jelas terlihat dalam perjalanan hidup anak memasuki kegiatan belajar tahap awal pada kelompok Taman Bermain. Pada saat ini anak mulai berinteraksi dengan teman sebayanya. Namun, sering terjadi komunikasi tersebut macet karena anak tersebut diam saja dan tidak mempunyai meberanian untuk bercerita atau berbicara dengan teman-temannya. Keadaan ini disebabkan oleh perasaan asing dengan orang lain yang baru dikenalnya.

    Banyak faktor yang mendukung anak untuk berkembang dalam berbicara dengan menggunakan kalimat-kalimat yang sederhana.Salah satu faktor penting yang dapat dimanfaatkan orang tua untuk melatih anak berbicara adalah dengan menggunakan cerita-cerita yang menarik minat anak. Orang tua harus menyediakan waktu untuk ada bersama dan bercerita dengan anaknya.

    Dunia modern dengan segala perkembangannya dapat memberi dampak negatif bagi anak jika orang tua tidak mengarahkannya dengan benar.Di sinilah peran cerita yang mengandung nilai moral dapat membantu anak untuk berkembang dengan baik sesuai dengan tokoh dalam cerita yang didengarnya dari orang tua/ orang dewasa/guru. Jadi, cerita yang digunakan untuk mengembangkan kemampuan berbicara anak harus dipilih dengan teliti dan bijaksana oleh orang tua atau orang lain yang membimbing anak itu.

    Tugas orang tua sangat penting dalam melatih anak berbicara melaui cerita-cerita yang digemari anak.Cerita-cerita itu dapat berupa dongeng-dongeng yang  mengandung nilai moral yang dapat mengembangkan kepribadian anak-anak. Dengan demikian, anak-anak akan tertarik mendengarkan cerita-cerita tersebut dan dapat mengungkapkannya kembali dengan kata-katanya sendiri. Kemampuan berbicara anak yang telah dilatih dalam berkomunikasi dengan orang tua dapat dikembangkan melalui jalur sekolah.

    B. Identifikasi Masalah

    Berdasarkan masalah yang dikemukakan  di atas dapat diidentifikasikan beberapa masalah. Adapun masalah yang dapat diidentifikasikan sebagai berikut:

    1. Bagaimanakah proses pola asuh yang baik terhadap perkembangan bahasa anak 0-4 tahun?
    2. Pengaruh apakah yang akan muncul  terhadap perkembangan bahasa anak ketika anak sering disuguhi tontonan yang ada di televisi oleh pengasuhnya?
    3. Sarana pendukung apakah yang dapat digunakan di  dalam meningkatkan kompetensi berbahasa pada anak 0-4 tahun?
    4. Model cerita yang bagaimanakah yang dapat mendukung perkembangan   bahasa anak 0-4 tahun ?

    Pembatasan Masalah

    Untuk membatasi masalah penulis membatasi dengan, 1. Bagaimana pola asuh yang baik terhadap perkembangan bahasa anak 0-4 tahun? 2. Pengaruh apakah yang akan muncul ketika anak sering disuguhi tontonan di televisi oleh pengasuhnya?

    C.           Tujuan

    Tujuan Penelitian ini dilakukan sebagai upaya peningkatan kompetensi  perkembangan bahasa  anak 0-4 tahun. Dari pengamatan awal menunjukkan bahwa anak yang diasuh dengan selalu diajak berbicara, sering menononton televisi yang acaranya khusus untuk anak usia 0-4 tahun, sering mendengarkan cerita atau dongeng, sering diperkenalkan dengan benda terus nama bendanya disebutkan biasanya sianak akan lebih pandai berbicara dibandingkan dengan anak ketika diasuh oleh ibunya atau baby sister yang diam anak tersebut akan terbawa diam dan jarang protes ketika dia melihat sesuatu yang aneh sekalipun.

    D. Kegunaan

    Kegunaan penulis mengangkat pengaruh pola asuh terhadap perkembangan bahasa anak 0-4 tahun adalah :

    1. Upaya untuk memberikan solusi  yang baik terhadap para orangtua ataupun baby sister sehingga pada saat bergaul dengan anak asuhnya   0-4 tahun senantiasa menggunakan bahasa  yang bermakna.
    2. Meningkatkan kemampuan berbahasa terhadap orangtua asuh dalam memebimbing anak 0-4 tahun.
    3. Hasil penelitian sebagai umpan balik untuk meningkatkan kreatifitas pola asuh terhadap perkembangan bahasa anak 0-4 tahun.
    1. E. Metodologi Penelitian

    Metodologi penelitian ini adalah menggunakan catatan harian, dan model pembelajaran langsung dari model ini terkait dengan live model artinya model ini diangkat dari kehidupan yang nyata.

    1. a. Tujuan Penelitian

    Mendeskripsikan, menjelaskan, dan menganalisis tentang pengaruh pola asuh terhadap perkembangan bahasa anak 0-4 tahun.

    b.      Tempat dan Waktu Penelitian

    1.      Tempat Penelitian,

    Penelitian dilaksanakan di lingkungan keluarga yang berada di kota Rangkasbitung Kabupaten Lebak.

    1. Waktu Penelitian,

    Penelitian ini berlangsung pada saat anak sedang berinteraksi dengan sesama teman sebayanya  saat  bermain atau pada saat anak tersebut diajak jalan-jalan. Diambil dari pengalaman keluarga pada saat anak berusia 0-4 tahun dan sebagian lagi hasil observasi atau pemantauan pada bulan Desember – februari 2010.

    1. F. Sumber Data

    Sumber data diperoleh dari lingkungan sekitar rumah penulis dan anggota keluarga yang usianya berkisar 0-4 tahun. Amel  pada usia 1 tahun diperkenalkan dengan boneka kayu yang tidak memakai baju spontanitas sang ibu ketika melihat payudara boneka menyebutnya pepew, Amel terdiam rupanya diamnya Amel adalah rekaman yang dahsyat sehingga ketika dia minta dienenin dia langsung berkata pepew sambil menujuk payudara ibunya, Amel sekarang duduk dibangku SD kelas satu sampai saat ini dia selalu mengatakan pepew apabila melihat atau mengeluhkan sesuatu yang hubungannya dengan payudara. Alif adalah kakak amel pada saat usia 2.5 tahun dia sudah mampu menghapal 10 surat yang terdapat dalam Alquran, Alif diasuh oleh kakeknya, kakeknya sering mengajak Alif ke mesjid rupanya Alif selama dimesjid bersama kakeknya merekam ayat suci Alquran yang selalu dilantunkan oleh imam pada waktu sholat, sampai saat ini hapalannya sangat tajam walupun hanya dengan mendengarkan saja. Zidni sekarang usianya 3-5 tahun adalah anak dari orangtua yang sama-sama sibuk bekerja sehingga seluruh perhatianya diserahkan kepada pengasuhnya dirumah tetapi untungnya pengasuhnya itu aktif mengajak komunikasi sehingga Zidni nyambung sekali jika diajak komunikasi. Suatu saat Zidni diajak jala-jalan dengan menggunakan kendaraan yang ngebut, tiba-tiba dia menutup matanya, setelah itu ditanya mengapa Zidni menutup mata? Dia menjawab “takut tabrakan” apa tabrakan itu? Jawabnya spontan “Nanti kica maci cemua”.  Dari sisi lain sikap Zidni agak berbeda dia egois, selalu ingin dinomor satukan dan tidak mau mengalah jika bermain dengan teman-temanya. Adit 2 tahun adalah anak kedua dari pasangan yang sama-sama sibuk sehingga sepenuhnya kebutuhan dan semua kegiatan sehari-hari yang dilakukan Adit sepenuhnya diserahkan kepada pengasuhnya, setiap kali Adit minta minum teh manis dia menyebutnya air sedap, ternyata Adit merekam tingkah ayahnya kalau minum teh manis selalu menyatakan mmm sedaap,  Adit tergolong anak yang hiper aktif, artinya dia selalu membuat keonaran apabila berkumpul dengan bocah-bocah yang sebayanya, dia selalu memukul atau berkata kasar, sehingga banyak teman sebayanya yang takut jika Adit datang ingin bergabung bermain. Kebalikan dengan Icha 1-8 tahun  ayahnya pegawai pemda ibunya seorang guru, sayang keseharian Icha lebih banyak dikurung dirumah oleh orangtuanya sehingga Icha kurang bisa beradaptasi dengan lingkungan sosial yang berada disekitar rumahnya, Icha jika diajak berkomunikasi dia jarang sekali merespon ataupun menjawab malah kadang jawabanya tidak diharapkan seringkali dia menangis tiba-tiba akhirnya Icha dibawa lagi kedalam rumah dan duduk didepan televisi seolah-olah itulah dunia Icha yang nyaman. Jovana 5-8 tahun, mempunyai keunikan dalam komunikasi dengan para pengasuhnya. Selain kasar dia juga galak dan hiper aktif, sehingga kekerasanlah yang sehari-hari dinikmati jovana.

    BAB II

    KERANGKA TEORI

    Berbicara dan menyimak merupakan kegiatan komunikasi dua arah yang berlangsung, merupakan komunikasi tatap muka atau face to face communication (Brook 1964:134). Ujaran (speech) biasanya dipelajari melalui menyimak dan meniru (imitasi). Oleh karena itu maka contoh atau model yang disimak atau direkam oleh sang anak sangat penting dalam penguasaan berbicara. Ujaran sang anak mencerminkan pemakian bahasa di rumah dan dalam   masyarakat  tempat  hidupnya; misalnya : ucapan, intonasi, kosa kata, penggunaan kata-kata, pola-pola kalimat. Bunyi atau suara merupakan suatu factor penting dalam meningkatkan cara pemakaian kata-kata sang anak.   Oleh karena itu sang anak akan tertolong jika  mereka menyimak ujaran-ujaran yang baik dari orangtua maupun lingkungan sekitar. Umumnya sang anak mempergunakan, meniru bahasa  yang  didengarnya   ( H. Guntur Tarigan 1987 :4). Pola asuh yang baik terhadap perkembangan bahasa anak 0-4 tahun adalah bagaimana orangtua asuh memberikan contoh, artinya tindak tutur bahasa ibu itu adalah sebuah cerminan dimana anak selalu merekam. Bahasa sang ibu adalah bahasa yang dipakai oleh orang dewasa pada waktu berbicara dengan anak yang sedang dalam proses memperoleh bahasa ibunya ( Soenjono Dardjowidjojo 2008: 242 ). Faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan bahasa anak diantaranya adalah faktor dari dalam diri dan faktor dari luar diri,    H Djaali (2008 ; 99) mengatakan bahwa faktor intelegensi dan bakat besar sekali pengaruhnya terhadap kemampuan berbahasa anak sedangkan faktor dari luar diri adalah datangnya dari keluarga dan lingkungan sekitar, situasi keluarga sangat berpengaruh terhadap perkembangan bahasa anak sebab anak belajar dari situasi dimana anak tumbuh dan dibesarkan dilingkungan tersebut.

    Keterampilan berbicara juga menunjang keterampilan menyimak, membaca, dan menulis. Pembicara yang baik merupakan contoh yang dapat ditiru oleh penyimak. Pembicara yang baik selalu berusaha agar penyimaknya mudah menangkap isi pembicaraannya (Djago Tarigan. 1990 : 150).

    Pengaruh yang akan muncul terhadap perkembangan bahasa anak 0-4 tahun ketika selalu disuguhi tayangan televisi sangat buruk sekali karena anak lebih banyak mendengarkan daripada berbicara sehingga proses interaksi tidak muncul. Bayi yang selalu terpajan pada suara televisi lebih mungkin menderita penundaan perkembangan bahasa dan tertinggal dalam perkembangan otak karena mereka mendengar lebih sedikit kata dari orangtua mereka dan kurang “berbicara”.  Cristakis mengatakan dalam kantor berita resmi China, Xinhua bahwa televisi yang bersuara jelas mengurangi kata-kata dan perawat mereka didalam rumah dan mengandung potensi yang merugikan bagi perkembangan bahasa bayi. ” Studi ini adalah yang pertama yang memperlihatkan bahwa ketika televisi menyala ada pengurangan kata-kata didalam rumah. Bayi kurang mengeluarkan kata-kata dan perawat mereka juga lebih jarang berbicara dengan mereka, “katanya.

    Sarana yang mendukung dalam proses pengembangan bahasa anak 0-4 tahun adalah  orangtua bisa memperkenalkan  kepada anak dengan sebuah gambar lalu menyebutkan artinya, setelah itu orangtua memperkenalkan kembali alat bantu menulis yang tidak hanya terbatas pada pensil, bisa juga spidol, pensil warna, krayon, atau bahkan arang, yang tujuanya tak lain untuk media khusus bagi anak untuk mencurahkan tulisannya sesuai dengan keinginanya. Dalam hal ini, orangtua bisa menggunakan poster pengenalan huruf dan angka yang dipasang di tempet-tempat yang mudah dilihat. Sekali lagi, dilakukan hanya untuk mendorong minat anak untuk mengenal bukan untuk memaksa anak agar bisa dalam satu kali proses. Pada usia pertumbuhan, pemahaman anak tentang bahasa masih berada dalam tahap abstrak. Misalnya, ketika mendengar kata anjing, yang terekam dalam schemata anak adalah anjing menggonggong. Pada tahap ini pandangan anak terhadap kata belum meluas pada penganalogian, masih terbatas pada apa  yang terlihat dan terdengar. Berilah pengertian tentang satu contoh tulisan dengan objek benda berwujud dan bisa dibayangkan oleh imajinasi anak. Misalnya, menganalogikan huruf <o> dengan sebuah donat. Cara demikian akan mempermudah pemahaman anak sekaligus membantu mengasah daya ingat anak 0-4 tahun.

    Menurut Dewa Ketut Sukardi dalam Bimbingan Perkembangan Jiwa Anak (1987:27) bahwa dongeng berfungsi untuk mengembangkan kepribadian dan imajinasi anak, dan juga untuk mengakrabkan hubungan antara anak dengan orangtua/dewasa. Pada masa perkembangan kepribadian anak cerita atau dongeng mutlak diperlukan, sebab daya khayal pada masa-masa atau periode ini sangat berperan, karena antara kenyataan (realita) dan khayalan belum dapat dipisahkan dalam hidup anak terutama 0-4 tahun.

    BAB III

    ANALISIS

    Analisis Pengaruh Pola Asuh terhadap Perkembangan Bahasa Anak 0-4 tahun, berangkat dari serangkaian yang terjadi dilapangan. Anak yang selalu diajak berbicara dengan bahasa yang halus, lembut dan sopan akan membentuk kepribadian anak 0-4 tahun menjadi anak yang baik artinya tindak tuturnya tidak akan berberda jauh yaitu selalu mengikuti alur yang baik karena melihat contoh orangtua asuhnya yang baik pula. Tak jarang kita sering melihat anak 0-4 tahun ketika dia bertutur kata selalu menggunakan kata yang kasar juga kotor tetapi orangtua asuhnya tak pernah memprotesnya bahkan sebaliknya justru memberi senyuman atau tepukan terhadap bahasa yang dikeluarkan oleh si anak, anak dibiarkan begitu saja menggunakan bahasa yang mengalir didalam tubuhnya dengan bahasa yang tidak baik ,sehingga anak tersebut menganggap bahwa bahasa yang dipakainya adalah bahasa yang benar.

    Kesibukan orang tua adalah penyebab kedua terhadap perkembangan bahasa anak 0-4 tahun, karena kadangkala orangtua memberikan kepercayaan sepenuhnya terhadap baby sister dengan gaya mereka sendiri. Sehingga tampak jelas ketika baby sister sudah lelah ia akan memberi kenyamanan dengan meninabobokan anak didepan televisi, dan si anak dibiarkan asik menikmati tontonan sehingga anak lebih senang mendengarkan daripada berbicara.

    Amel pada usia 1 tahun diperkenalkan boneka kayu yang tidak memakai baju oleh ibunya, spontanitas sang ibu menyebutnya pepew pada payudara boneka kayu tersebut, Amel diam tetapi rupanya dia merekam, ketika minta dienenin dia langsung mengucapakan  kata pepew dan langsung menunjuk payudara ibunya, dari sejak itulah Amel seslualu menyebut payudara itu pepew tetapi belum pernah ada yang memprotesnya sehingga Amel beranggapan memang itulah sebutan untuk payudara. Karena Amel menganggap bahwa ucapanya itu benar dia merasa nyaman menyebuy pepew.  Usia Amel kini 6.8 tahun kini duduk dibangku SD kelas 2, tetapi bila mengeluh tentang payudara dia selalu menyebutnya pepew dan Amel sama sekali tidak tahu kalau itu adalah nama yang sesungguhnya payudara. Suatu ketika Amel minta dibersihkan payudaranya karena ada dakinya, “ Mah pepew aku mau dibersihkan jiji banyak dakinya,” lalu ibunya balik bertanya Mel payudaranya kok udah gede, Amel bengong, “ Mah payudara itu apa? Sang ibu terkejut rupanya Amel memang betul-betul tidak tahu apa itu payudara.

    Alifiya kakak Amel ketika 2 tahun sering diajak sang kakek sholat ke mushola, Alif kalau di ajak sholat dia selalu duduk manis disamping sang kakek, kalau sholat beres Alif kambali diajak kerumah. Proses itu berlangsung ketika Alif sudah bisa diajak komunikasi sekitar 1.8 tahun, sang kakek melarang pengasuh untuk bicara cadel kepada Alif, usia 2.0 tahun Alif berbicara normal walaupun R nya tidak jelas tapi tidak terdengar cadel ditelinga yang mendengar, Alif 2.5 tahun sudah hapal Alquran 5 surat, yaitu Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas, Al-Maun, Al-Humazah. Alif akhirnya menjadi kebanggaan sang kakek setiap kali diajak berkunjung kerumah family Alif selalu disuruh mengaji oleh orang-orang yang ingin membuktikan kebenaran itu, jika Alif membacakan ayat-ayat itu dia kadang duduk tapi pandangannya kesana kemari bahkan bisa sambil berlari-lari tetapi mulutnya tetap mengaji. Alif sekarang kelas 6 SD.  Dari sejak TK hingga sekarang hapalannya sangat kuat dan dia selalu menjadi juara pertama dikelasnya, anaknya diam tetapi cepat menangis bila ada yang kurang berkenan.

    Zidny adalah anak pertama dari orang tua yang sama-sama sibuk ibunya seorang perawat, ayahnya pegawai Pemda Kabupaten, keseharian Zidny hanya dengan pembantu. Zidny  suka sekali nonton teletabis tapi pembantunya kebetulan aktif berbicara dengan Zidny. 2 tahun Zidny diasuh dengan pembantu yang sama seterusnya sampai usia 3-0  Zidny diasuh oleh neneknya yang super cewet alhasil Zidny sekarang usia 3-5 tahun mempunyai watak yang sama dengan neneknya yang cerewet itu, Zidny jika diajak komunikasi selalu nyambung tetapi ego nya sangat tinggi, dia keras kepala dan selalu ingin menang sendiri, waktu usia 2-0 tahun Zidny diajak jalan-jalan dengan naik mobil agak ngebut sepanjang jalan dia menutup mata, lalu diatanya mengapa menutup mata, dia menjawab takut tabrakan, apa tabrakan itu? Jawaban Zidny “nanti kica maci cemua” Zidny sekarang masuk play group, dikelas zidny menjadi anak yang dominan, dan termasuk anak yang sangat cerewet dia selalu memprotes teman-temanya jika temannya membuat kesalahan atau bahkan yang lainya, seperti jika temanya memakai pakaian yang tidak rapih. “ kok pakaian kamu ga dimasukan”, kok rambutnya panjang ga diikat”, padahal Zidny sendiri berambut panjang tapi giliran mau diikat dia selalu bilang “ aku ga mau diikat takut ga cantik”.

    Adit sekarang usianya 2-9 tahun, sehari-hari waktunya habis bersama pengasuhnya. Suatu hari ketika ayahnya minum teh manis, ayahnya mengatakan mmm mantap,  rupanya  Adit  merekam  sehingga ketika dia minta teh manis dia  mengatakan   “mau ceh mantap”, pengasuh Adit mebiasakan Adit kalau minta susu dengan sebutan yuyu akhirnya sampai saat ini kebisaan itu selalu dipakai Adit. Pola asuh yang diberikan pengasuhnya kepada Adit terlalu berlebihan, contohnya suatu hari ketika Adit berkata kasar seperti menyebut temanya dengan kata-kata “Jing” tetapi oleh pengasuhnya tidak pernah diprotes kalau yang dimaksud kata Adit adalah kata yang kasar bahkan rendah karena itu menyebut binatang anjing, malah pengasuhnya ketika Adit berkata begitu, ditertawakan  dan dicium, yang lebih dahsyat lagi malah dipuji katanya “duh pinternya anak ua,” betapa Adit sekarang asiik dengan kata-kata “jing”, penulis pernah bertanya kepada Adit, “Dit apa Jing itu” Adit menjawab sambil memeluk pengasuhnya “guguk”. Lalu penulis melarang “Ga boleh bilang begitu ya sayang”  Adit malah melempar penulis dengan sandal.  Anehnya sang pengasuh lagi-lagi tersenyum dan mentertawakan Adit.  Adit tergolong anak yang galak  dan usil, bila bersama teman-teman sebayanya dia selalu membuat ulah, misalnya mendorong, melempar dengan batu, atau tiba-tiba saja dia memukul temanya dengan benda keras sampai berdarah. Dan kata-kata Adit itu selalu kasar.

    Icha 1-8 tahun adalah anak kedua dari bapak Agus Nurlianto yang bekerja di Pemda Kabupaten, Ibunya seorang guru. keseharian Icha banyak dikurung di rumah oleh ibunya, Ibunya memberi komitmen  kepada pembantunya untuk tetap tinggal didalam rumah jika beliau sedang pergi ke sekolah, akhirnya sang pengasuh lebih banyak menghabiskan waktunya dengan Icha didepan televisi. Sosialisasi Icha sangat kurang sekali, terbukti apabila Icha dibawa keluar rumah dia lebih banyak diam dan tak pernah mengeluarkan  kata-kata. Suatu hari penulis mengajak komunikasi dengan Icha “ Sini Icha main dengan teteh” Icha malah bersembunyi diketiak sang ibu lalu menangis. Akhirnya sang ibu lagi-lagi membawa Icha kembali kerumah. Sampai saat ini penulis jarang sekali mendengar Icha mengeluarkan kata-kata. Penulis menyimpulkan Icha lebih asiik dirumah dan merasa tersiksa kalau diajak bergabung dengan lingkungan sekitar.

    Jovana 5-8 tahun adalah anak keturunan  Tionghoa, ibunya orang Sunda bapaknya Tionghoa, orangtua Jovana adalah pengusaha emas di Rangkasbitung yang keseharianya sibuk ditoko. Waktu usia 2-0 tahun Jovana sering menghabiskan waktu ditoko bersama maminya, Jovana sering menyaksikan papinya jika memarahi pegawainya. Karena sering merekam kejadian itu, tumbuhlah Jovana menjadi anak yang berprilaku kasar dan berbahasa kasar pula. Anehnya sang papi tidak menerima tindak tutur anaknya seperti itu,  sehingga suatu hari Jovana memebuat kesalahan,  Jovana dipukul dengan sabuk dengan mengeluarkan kata-kata yang kasar seperti, dasar anak setan lo, dasar bego lo, saat Jovana minta ampun pun sang papi malah semakin garang dan berkata “ ngelawan lo” nantang gua lo” dst.  Kini Jovana menggunakan kata-kata itu jika dia kesal terhadap orang-orang yang  berada didekatnya bahkan suatu hari penulis menyaksikan Jovana sedang mengobrak abrik hasil setrikaan pembantunya, lalu penulis bertanya “eh Jov, kok di acak-acak, kenapa?” Jovana menjawab “ biarin, biar si bodo banyak kerjaan,” bukan kepalang luar biasa kagetnya sang penulis, anak seusia Jovana bisa mengeluarkan kata-kata seperti itu.

    BAB IV

    KESIMPULAN

    Pola asuh seperti yang dipaparkan diatas akan berhasil bilamana orangtua mampu menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan bahasa anak 0-4 tahun. Para ahli sepakat bahwa pemerolehan bahasa anak sangat dipengaruhi oleh penggunaan bahasa sekitar. Dengan kata lain, perjalanan pemerolehan bahasa seorang anak akan sangat bergantung pada lingkungan bahasa anak tersebut (Yudibrata, 1998:65). Rumah adalah sekolah pertama bagi anak, orangtua adalah guru pertama yang bisa mengantar anak menuju gerbang pendidikan formal.  Orangtua memiliki andil yang besar dalam perkembangan bahasa anak. Penyediaan sarana dan prasarana pendidikan dilingkungan rumah merupakan hal penting bagi proses perkembangan bahasa anak. Proses ini semestinya tidak terhambat oleh masalah finansial. Yang penting, bagaimana orangtua membuat  kondisi rumah sedemikian rupa agar mampu menghasilkan stimulus positif sebanyak dan sevariatif mungkin. Sesuai dengan nalurinya, anak senantiasa ingin selalu mengetahui segala hal dan mencoba sesuatu yang baru. Pemberian stimulus akan memengaruhi perubahan perilaku anak. Stimulus yang diberikan oleh orangtua akan terbingkai dalam pola pikir, pola tindak, dan pola ucap anak. Jika orangtua menginginkan santun dalam berbahasa, maka berikan stimulus yang positif. Setiap aktifitas yang terjadi dilingkungan rumah merupakan rangkain dari proses pemerolehan yang sifatnya berkala dan berkesinambungan. Dalam hal ini orangtua berperan sebagai motor penggerak yang memegang kendali pertama dan utama dalam perkembangan bahasa anak melalui pola asuh yang mendidik.

    DAFTAR PUSTAKA

    Dardjowidjojo, Soenjono. 2008. Psikolinguistik Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Obor Indonesia.

    Djaali. H. 2008. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara

    Ketut Sukardi, Dewa. 1984. Psikologi Populer Bimbingan Perkembangan Jiwa Anak. Jakarta : Ghalia Indonesia.

    Guntur Tarugan, Henry. 1987. Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung : Angkasa

    Tarigan, Djago. 1990. Pendidikan Bahasa Indonesia Modul 4 Berbicara. Jakarta : Depdikbud

    Tarmizi WordPress.com/…/dampak-bahasa-ibu-b1-dalam pemerolehan bahasa

    Infotelevisi.blogspot.com/…/ pengaruh-televisi-pada-perilaku-anak

    Mradhi.com/…/pengaruh-pola-asuh-terhadap-perkembangan-bahasa-anak.

    Dipublikasi di Artikel, Uncategorized | Meninggalkan komentar